Tetesan Air Mata di Tengah Harapan, Perjuangan Bocah 2 Tahun Melawan Kanker Retinoblastoma di Sudut Lombok Timur

(Lombok Timur, PorosLombok.com) – Di sudut kecil Dusun Jelok Buso, Desa Pemongkong, Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur, seorang bocah berusia 2 tahun bernama Ahmad Rizwan Akbar tengah berjuang melawan kanker retinoblastoma. Pada Selasa (27/08), bantuan dari Kepala Desa Pemongkong dan Gawah Lauk Foundation (GLF) datang bak setetes embun di tengah gurun panas, membawa secercah harapan bagi si bocah malang ini.

Ahmad sebelumnya mendapatkan perawatan di RSUD Raden Soedjono Selong. Namun, perawatan tersebut tak mencukupi. Ahmad harus dirujuk ke RSUP Mataram, rumah sakit dengan fasilitas yang lebih lengkap. Selama tiga bulan, BPJS Kesehatan yang pembayarannya ditanggung oleh APBD Kabupaten Lombok Timur menjadi penopang harapan mereka.

Haji Sadri, ayah Ahmad, menceritakan kisah perjuangan mereka dengan mata sembab. “Ahmad dirujuk ke RSUP Mataram. Selama tiga bulan, kami bergantung pada BPJS Kesehatan yang dibayar oleh APBD Kabupaten Lombok Timur,” ujarnya sembari menahan isak yang tak kunjung reda.

Ketua GLF, Ayunan, S.H., dengan penuh empati menyatakan bahwa mereka akan terus mendukung Ahmad hingga sembuh. “Peluang sembuh sangat besar. Bila butuh ambulans, kami siap memfasilitasi,” kata Yunan. Namun, di balik kata-katanya tersirat kekhawatiran mendalam akan nasib Ahmad.

Sementara itu, Kepala Desa Pemongkong, Rudi Muliono, S.Sos., melalui Sekretaris Desa Mukmin Sasaka, S.H., menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan menunjukkan kanker Ahmad tidak ganas. “Peluang untuk sembuh masih besar. Jadi harus semangat untuk sembuh,” tegas Mukmin. Namun, semangat itu seringkali tergilas oleh kenyataan pahit yang harus dihadapi.

Mukmin juga menyampaikan terima kasih kepada GLF yang telah peduli dan memberikan bantuan kepada Ahmad, anak ketiga dari pasangan Sadri (36) dan Nurhalimah (35). “Terima kasih banyak atas kepedulian dan bantuannya,” ujar Mukmin. Namun, di balik ucapan terima kasih itu, ada kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

Pemdes Pemongkong siap berkolaborasi dengan GLF dalam menyediakan ambulans untuk pengobatan Ahmad ke RSUP Mataram. “Semoga warga kami bisa kembali sembuh,” tambah Mukmin dengan nada penuh harap. Namun, janji-janji itu terasa hampa di tengah penderitaan yang masih membelit Ahmad dan keluarganya.

Vonis Dokter dan Penolakan Kemoterapi

Selama hampir tiga bulan, Ahmad menjalani pengobatan di berbagai rumah sakit di Lombok Timur dan provinsi. Namun, hasilnya belum memuaskan. Dokter menyatakan bahwa Ahmad berada di stadium akhir. Hati Haji Sadri hancur mendengar vonis itu, namun dia tetap berusaha tegar di depan putranya.

Kemoterapi yang disarankan oleh dokter ditolak oleh kedua orang tua Ahmad. “Kami tidak bisa membayangkan penderitaan anak kami jika menjalani kemoterapi,” ujar Haji Sadri dengan suara bergetar. Pilihan itu bukan tanpa alasan, sebab mereka tak tega melihat putra kecilnya menderita lebih parah.

Harapan kini tertumpu pada Rumah Sakit CMI di Bandung. Haji Sadri mendengar banyak cerita kesembuhan dari penyakit serupa di sana. Namun, biaya menjadi kendala besar yang membebani pikiran mereka setiap malam. “Kami ingin membawa Ahmad ke CMI, tapi biayanya sangat besar,” ungkapnya dengan napas berat.

Dengan segala keterbatasan, Haji Sadri memohon bantuan dari pemerintah. “Saya berharap pemerintah hadir sebagai solusi buat warga masyarakat yang membutuhkan,” katanya penuh harap. Dia ingin Pj Bupati Lombok Timur dan Pj Gubernur NTB turun langsung melihat kondisi keluarganya.

Haji Sadri bahkan berharap Presiden Jokowi bisa mengunjungi Dusun Jelok Buso, Desa Pemongkong, Jerowaru, Lombok Timur. “Jika mungkin, saya berharap Presiden Jokowi bisa datang dan melihat sendiri penderitaan kami,” ucapnya, seakan menggantungkan mimpi pada harapan yang tipis.

Di tengah segala cobaan, Ahmad Rizwan Akbar tetap berjuang dengan senyum kecil di wajahnya. Tubuhnya mungkin semakin lemah, tapi harapan untuk sembuh tetap menyala di hatinya. Setiap hari, dia mencoba bertahan dan melawan rasa sakit yang terus menghampiri.

Ahmad seharusnya menikmati masa kanak-kanaknya dengan bermain dan belajar. Namun, kenyataan pahit memaksanya menghadapi penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Di balik senyum kecilnya, tersimpan kisah perjuangan yang tak terlihat oleh mata kebanyakan orang.

Dukungan dari berbagai pihak menjadi pelita di tengah gelapnya perjalanan hidup Ahmad dan keluarganya. Bantuan yang datang memberi mereka kekuatan untuk terus berjuang, meski jalan yang harus ditempuh penuh dengan rintangan dan cobaan.

Setiap hari adalah perjuangan bagi Ahmad dan keluarganya. Meski tubuhnya semakin lemah, semangat mereka tak pernah pudar. Mereka terus berharap, berdoa, dan berusaha, meski kadang merasa tak berdaya menghadapi kenyataan yang begitu kejam.

(Arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU