PorosLombok.com – Direktur Program PLAN International Indonesia Ida Ngurah menegaskan bahwa perempuan merupakan aktor kunci dalam memutus rantai pernikahan dini melalui gerakan GEMERCIK, Senin (9/3/2026).
Langkah ini menyasar peningkatan kapasitas pelajar di Aula Kantor Bupati agar mampu menjadi agen perubahan yang vokal dalam memperjuangkan hak-hak anak dan masa depan pendidikan.
”Perempuan di Lombok Utara memiliki peran besar sebagai penggerak pencegahan perkawinan anak dan pembinaan keluarga,” ujar Ida Ngurah.
Pernyataan tersebut menyoroti bagaimana keterlibatan aktif kaum perempuan dapat mempercepat penurunan angka stunting yang sering kali dipicu oleh komplikasi kehamilan di usia terlalu muda.
”Kami berharap ilmu ini tidak hanya berhenti di ruangan ini, tetapi disebarkan kepada teman sebaya,” katanya.
Agenda strategis ini sengaja dilaksanakan untuk memperingati momentum Hari Perempuan Sedunia guna memperkuat posisi tawar anak perempuan dalam meraih cita-cita tanpa hambatan sosial.
Wakil Bupati Lombok Utara Kusmalahadi Syamsuri menyambut baik inisiatif tersebut sebagai langkah nyata dalam menekan tingginya angka pernikahan di bawah umur yang masih mengkhawatirkan.
Kusmalahadi berpendapat bahwa sinergi antara pemerintah dan organisasi internasional sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi pertumbuhan anak-anak.
”Program GEMERCIK ini sangat penting karena menjadi bagian dari upaya kita bersama mencegah perkawinan anak,” jelasnya.
Efek domino dari pernikahan dini yang meliputi terhambatnya akses pendidikan serta risiko kesehatan tinggi menjadi poin utama yang harus diantisipasi oleh seluruh pemangku kepentingan.
Tokoh pemerintahan tersebut kembali mengingatkan bahwa tugas melindungi masa depan generasi penerus bangsa bukan hanya beban pemerintah pusat, melainkan tanggung jawab kolektif para orang tua.
”Mencegah perkawinan anak merupakan tanggung jawab kita bersama masyarakat hingga seluruh pemangku kepentingan,” pungkasnya.*















