PorosLombok.com, Mataram-
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional bekerjasama dengan Tanoto Foundation melakukan uji coba buku panduan penyuluhan bina keluarga balita eliminasi masalah anak stunting (BKB-Emas), di lombok Barat pada 25-28 Oktober 2022
Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana Ahli Muda Direktorat Bina Keluarga Balita dan anak, Muslicha, S.Sos, M.Si mengatakan kegiatan uji coba buku panduan penyuluhan BKB-Emas ini sebagai upaya Pemerintah untuk mendorong percepatan penanganan kasus stunting di Indonesia pada umumnya dan NTB pada khsusunya.
“Program ini sebagai upaya untuk menurunkan angka stunting. Diharapkan setelah dilakukan ujicoba ada perubahan perilaku pola asuh yang lebih baik dari orang tua sehingga meningkat anggota keluarga di BKB-Emas,” Ungkapnya dalam pembukaan kegiatan uji coba buku panduan penyuluhan BKB-Emas, di Hotel Aston, Selasa (25/10).
Dikatakan Icha, dalam program uji coba buku panduan penyuluhan ini. Terdapat enam topik pertemuan yang akan disasar. Topik pertama untuk melihat bagaimana fungsi keluarga itu sendiri. Kemudian melihat kondisi kesehatan fisik dan mental dari ibu dan bayi usia dua tahun. Selanjutnya untuk mengetahui bagaimana peran ayah dan anggota keluarga lainnya dalam pola asuh anak.
Berikut menstimulasi tumbuh kembang anak. Selanjutnya yang juga tidak kalah penting adalah melihat kebersihan lingkungan dan diri orang tua juga balita. Termasuk bagaimana pola pengasuhan yang responsif.
“Jadi setelah mengikuti penyuluhan, kita harapkan pengetahuan pemahaman dan keterampilan serta perilaku pola asuh dari para keluarga 1000 hari pertama kehidupan (HPK) meningkat,” imbuhnya
Dipilihnya NTB sebagai lokasi uji coba buku penyuluhan ini. Lantaran prevalensi stunting di NTB masih tergolong tinggi. Oleh sebab itu, melalui kegiatan ini dihaarapkan dapat menurunkan kasus stunting di NTB dengan cara perubahan perilaku pola asuh dari keluarga 1000 HPK.
“Meski baru dilakukan uji coba di Desa Mambalan, Gunung Sari, Lobar kita harap dapat menjadi percontohan bagi wilayah-wilayah lain,” bebernya
Sementara Kepala perwakilan BKKBN Provinsi NTB NTB Samaan,M.SI menyambut baik kegiatan ini bekerjasama dengan, Tanoto Foundation, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Menurutnya tema kegiatan uji coba buku ini sangat merefleksi bagaimana kondisi stunting di NTB. Nantinya hasil uji coba dari kegiatan ini bisa menghasilkan solusi yang dapat mempercepat penurunan angka stunting di NTB.
“BKKBN terus berupaya mendorong adanya inovasi dalam pencegahan stunting yang berbasis keluarga melalui edukasi dalam kelompok BKB. Semoga kerjasama uji coba buku nantinya menjadi panduan dalam melakukan perbaikan perilaku,” terangnya
Menurutnya stunting tidak hanya dipengaruhi oleh gizi tetapi juga perilaku asuh yang selama ini perlu diperbaiki. Pola asuh, kata Samaan mungkin sudah banyak diterapkan oleh masyarakat. Tetapi ada sifat kecil yang sering kali keliru dilakukan orang tua. Namun sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan balita.
“Peran orang tua merupakan pondasi utama dalam membentuk karakter anak yang baik dan berkualitas. Karakter yang baik dan berkualitas dimulai dari pengasuhan 1000 HPK yang baik,”
Berangkat dari itu Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) melalui kegiatan Bina Keluarga Balita dan Anak. Diyakini merupakan wadah yang strategis dalam upaya meningkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilan para orang tua dan anggota keluarga lain yang memiliki balita dalam membina tumbuh kembang balita.
“materi pertemuan yang diberikan kepada masyarakat nanti. Maka pola-pola asuh yang baik kepada balita akan berdampak terhadap percepatan penanganan stunting NTB,”bebernya
Program Manager untuk Kemitraan Tanoto Faondation dengan BKKBN, Arnoldus Paut menambahkan pihaknya sangat mendukung Pemerintah dan lembaga terkait dalam upaya pencegahan masalah yang menyangkut pada anak usia dini dan juga orang tua. Bekerjasama dengan BKKBN Pusat mereview kembali modul atau buku panduan BKB-Emas terkait masalah stunting pada anak. Dengan fokus pada perubahan perilaku orang tua yang memiliki anak usia dini.
“Hasil ujicoba ini diharapkan dapat memberi gambaran bagi orang tua utamanya diwilayah indonesia timur. Tentang bagaimana memahami dan mendapatkan informasi mengenai perilaku yang baik sebagai orang tua,” imbuhnya
Arnold menyebut kegiatan akan berlangaung selama 4 hari mulai dari 25 hingga 28 Oktober 2022. Dua hari pertama dilakukan untuk mereview materi dalam buku. Dua hari berikutnya untuk melakukan simulasi bersama dengan orang tua.
Tujuannya agar mendapat masukan dari para orang tua. Mulai dari prosesnya, urutan kegiatan, pembelajaran orang dewasa serta konten yang disajikan. Apakah sudah difahami atau tidak. Jika ditemukan sejumlah kendala. Itu akan menjadi bahan revisi demi penyempurnaan program pencegahan stunting pada anak.
“NTB sendiri merupakan lokasi kedua setelah ujicoba pertama dilakukan di Garut, Jawa Barat. Kedepan akan lebih banyak menyasar pada daerah yang akan menjadi percontohan BKKBN. Sesuai indikator bahwa lokus-lokus tersebut merupakan daerah beresiko stunting,”ucapnya
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Lombok Barat Ramdan Hariyanto mengapresiasi atas dipilihnya lobar sebagai lokasi uji coba buku penyuluhan BKB-Emas. Ramdan mengaku pihaknya siap untuk berkolaborasi dengan BKKBN dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di NTB.
“Kegiatan ini bisa memberikan edukasi sehingga para orang tua paham bagaimana cara mengasuh dan melindungi anaknya. Disamping juga mengetahui apa yang menjadi kebutuhan dari tumbuh kembang anaknya,”tuturnya
(*).















