Solidaritas Perempuan Mataram Tolak Kerja Sama Indonesia AS

SP Mataram tolak keras kerja sama RI-AS (BOP & ART) karena dinilai sebagai agenda geopolitik yang mencekik ekonomi rakyat, merusak lingkungan, serta mengancam ruang hidup perempuan.

PorosLombok.com – Gelombang penolakan terhadap kerja sama internasional antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) kini pecah di tingkat lokal karena dinilai mengancam kedaulatan negara.

​Solidaritas Perempuan (SP) Mataram secara resmi menyatakan sikap menolak keras perjanjian Board of Peace (BOP) dan Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada Minggu (8/3/2026).

​Ketua Badan Eksekutif Komunitas SP Mataram Ida Hidayati menegaskan bahwa skema BOP merupakan agenda geopolitik Donald Trump untuk ekspansi kekuasaan di Timur Tengah.

​Ia mengungkapkan bahwa langkah tersebut dilakukan tanpa memedulikan hak-hak bangsa Palestina yang selama ini menjadi fokus kepedulian masyarakat internasional, katanya.

​Pihak SP Mataram menilai keterlibatan Indonesia dalam kesepakatan tersebut sangat kontras dengan amanat konstitusi yang menolak segala bentuk penjajahan di atas dunia.

​”Ini adalah bentuk lain dari penjajahan berkedok perdamaian yang sangat melukai rasa keadilan masyarakat,” ujarnya.

​Narasi perdamaian yang diusung dalam perjanjian internasional tersebut dianggap palsu karena mengabaikan realitas kolonialisme Israel yang masih berlangsung hingga saat ini.

​Ida menyebutkan bahwa Indonesia seharusnya tidak memberikan legitimasi politik bagi skema yang mengaburkan realitas perampasan hak asasi manusia tersebut, katanya.

​Isu militerisasi wilayah konflik akibat agenda ini juga disorot tajam karena memicu kerusakan lingkungan hidup serta peningkatan emisi karbon secara global.

​”Perempuan selalu menjadi pihak paling terdampak saat krisis terjadi akibat kerusakan ekologi dan konflik bersenjata,” jelasnya.

​Selain masalah politik, organisasi ini membidik perjanjian dagang ART yang mewajibkan Indonesia memenuhi 214 ketentuan sementara Amerika Serikat hanya menjalankan 9 aturan.

​Ida menilai ketidaksertaraan regulasi tersebut merupakan bom waktu bagi stabilitas ekonomi nasional yang dapat menghancurkan struktur pasar domestik, katanya.

​Liberalisasi perdagangan ini diprediksi akan membuat pasar dalam negeri kebanjiran barang impor murah dari Negeri Paman Sam secara masif dalam waktu singkat.

​”Petani, nelayan, dan pelaku UMKM kita di desa-desa akan terhimpit oleh persaingan yang tidak sehat ini,” ujarnya.

​Produk lokal dianggap akan kalah saing secara harga sehingga memaksa banyak usaha kecil milik masyarakat menengah ke bawah segera gulung tikar.

​Ia menambahkan bahwa ekspansi industri skala besar berpotensi memicu alih fungsi lahan dan konsentrasi kepemilikan tanah di tangan segelintir korporasi, katanya.

​”Jika kondisi ini dibiarkan maka akan memicu panic buying dan perebutan kebutuhan pokok di tengah masyarakat,” pungkasnya.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU