(PorosLombok.com) – Ramadhan sebenarnya bukan sekadar ritual ibadah personal bagi umat Muslim. Sebaliknya, ia menjadi madrasah sosial yang mengajarkan empati secara nyata.
Oleh karena itu, rasa lapar bukan lagi pengalaman biologis semata, melainkan jembatan batin untuk memahami kegelisahan warga yang hidup dalam keterbatasan.
​Selain itu, rasa haus membuka pintu masuk bagi pemimpin untuk merasakan beban masyarakat kecil. Terutama mereka yang setiap hari harus bertarung dengan fluktuasi harga kebutuhan pokok dan kecemasan akan kesehatan anak-anak.
​Dalam suasana inilah, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal memberi makna baru pada agenda Safari Ramadhan. Ia sengaja menanggalkan protokoler kaku dan seremoni tahunan yang bersifat rutin. Hasilnya, Iqbal lebih memilih menjumpai langsung realitas di lapangan daripada sekadar duduk di belakang meja.
​Bersama Ketua TP PKK Provinsi NTB Sinta Agathia dan jajaran perangkat daerah, Iqbal pun menjauhi ruang rapat berpendingin udara. Ia justru memilih untuk menyisir pasar, menyusuri jalanan, hingga mendatangi puskesmas. Di sanalah detak kehidupan rakyat berdenyut jujur tanpa polesan.
​Pasar: Saat Data Bertemu Empati
​Kunjungan ke Pasar Gerung membuktikan bahwa dialog mampu menghasilkan kebijakan yang presisi. Saat berbincang dengan pedagang dan pembeli, Iqbal menemukan fakta penting bahwa harga kebutuhan pokok memang bervariasi antar pedagang. Namun, variasi ini justru memberi ruang pilihan bagi konsumen di tengah isu kenaikan harga.
​Oleh sebab itu, Iqbal menekankan pesan kuat agar pemerintah tidak gegabah menyimpulkan gejolak harga tanpa membaca fakta lapangan secara utuh. Ia pun langsung menginstruksikan para enumerator untuk mencatat harga terendah sebagai acuan. Langkah strategis ini bertujuan agar pemerintah tidak membangun kebijakan di atas persepsi yang bias.
​Sementara itu, pantauan di lapangan menunjukkan harga daging sapi masih stabil sesuai acuan. Meski harga daging ayam naik tipis karena faktor pemasok, pemerintah segera berkoordinasi untuk menjaga rantai distribusi tetap lancar. Dengan demikian, pendekatan ini murni bersifat sistematis dan berbasis mekanisme pasar, bukan sekadar langkah populis yang emosional.
​Selanjutnya, komoditas cabai memang menjadi yang paling sensitif. Hal ini terjadi karena cuaca ekstrem dan lonjakan permintaan menjelang Lebaran memicu kenaikan harga. Oleh karena cabai mengikuti hukum supply and demand, negara pun hadir melalui fasilitasi distribusi dari wilayah surplus ke wilayah defisit.
​Namun demikian, di atas angka-angka statistik, kehadiran Iqbal di antara lapak sayur berhasil membangun kepercayaan (trust). Dalam tata kelola pemerintahan, mendengar keluhan warga secara langsung merupakan fondasi yang jauh lebih kuat daripada sekadar regulasi tertulis.
​Menembus Akar Stunting: Menjaga Masa Depan
​Setelah dari pasar, perjalanan berlanjut menuju Puskesmas Gerung. Di sini, fokus pembicaraan bergeser dari harga bahan pokok menuju isu yang lebih krusial, yaitu Stunting.
​Wakil Bupati Lombok Barat Nurul Ahda kemudian memaparkan langkah konkret penanganan stunting di wilayahnya. Melalui pendekatan medis berbasis desa, pemerintah melibatkan dokter spesialis anak untuk memantau 1.500 anak secara intensif. Hasilnya pun luar biasa, sebab 80 persen anak menunjukkan kenaikan berat dan tinggi badan yang menggembirakan.
​Pesan besarnya jelas bahwa kolaborasi dan intervensi konsisten pasti mampu mengubah kondisi stunting. Selain itu, Sinta Agathia selaku Ketua TP PKK NTB juga mengingatkan bahwa stunting adalah persoalan multidimensi. Masalah ini mencakup gizi, sanitasi, hingga pola asuh orang tua.
​Bahkan, Sinta memberikan peringatan tegas mengenai pencegahan pernikahan usia anak. “Capek sekarang daripada capek di masa depan,” tegasnya. Kalimat ini menjadi pengingat bahwa keputusan hari ini sangat menentukan kualitas generasi mendatang. Dengan demikian, menjaga keturunan (hifz al-nasl) adalah amanah moral yang harus kita tunaikan bersama.
​Menjadikan Data sebagai Kompas
​Gubernur Iqbal kembali menegaskan bahwa validasi data adalah kunci utama. Sebab, tanpa data akurat, kebijakan hanya akan menjadi spekulasi belaka. Maka dari itu, ia meminta jajarannya memetakan penyebab stunting secara presisi—apakah karena faktor genetik, sanitasi buruk, atau kurangnya asupan gizi.
​Pendekatan evidence-based policy ini kemudian menyatu dengan program “Desa Berdaya”. Melalui program ini, pemerintah menangani kemiskinan ekstrem, ketahanan pangan, dan kesehatan anak secara terpadu dalam satu orkestrasi kebijakan.
​Selain itu, Iqbal mengingatkan bahwa intervensi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Perbaikan gizi akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan pembenahan sanitasi. Oleh karena itu, Iqbal mengajak pemerintah daerah, PKK, hingga kader posyandu untuk bergerak serentak. Ia bahkan mendorong para ibu sukses untuk berbagi pengalaman guna mengubah program administrasi menjadi sebuah gerakan sosial.
​Kepemimpinan yang Mau Mendengar
​Pada akhirnya, Safari Ramadhan ini menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah tentang mendengar. Pemimpin yang hadir langsung di tengah rakyat tentu akan memperoleh umpan balik yang jauh lebih berharga daripada sekadar laporan tertulis.
​Dengan demikian, turunnya Iqbal ke pasar dan puskesmas mencerminkan nilai amanah yang nyata. Ramadhan pun mengajarkan bahwa kepemimpinan adalah bentuk pelayanan. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, setiap pemimpin pasti akan memikul pertanggungjawaban atas rakyatnya.
​Catatan ini ingin menyampaikan satu pelajaran berharga bahwa kebijakan terbaik lahir dari perjumpaan dengan kenyataan. Harga cabai dan tinggi badan anak sama-sama penting, sebagaimana data dan empati harus selalu berjalan beriringan.
​Sebab, Ramadhan bukan hanya soal menahan lapar. Ia adalah komitmen kolektif untuk memastikan tak ada rakyat yang memikul beban hidup sendirian.”
















