Jejak Sunyi Benteng Terakhir Kerajaan Selaparang di Sikur Lombok Timur

Di bawah nisan bisu Desa Gelora, terkubur kesetiaan pasukan Selaparang yang gugur di benteng pertahanan terakhir. Monumen kesunyian ini merawat memori ksatria yang jatuh demi marwah.

PorosLombok.com – Angin pegunungan di timur Pulau Lombok membawa aroma tanah basah yang menyelimuti nisan-nisan tua di Desa Gelora, sebuah situs yang menjadi saksi bisu keruntuhan sebuah adidaya lokal pada Sabtu (28/02).

​Situs ini menyimpan kembaran sejarah dengan makam termasyhur di Suela. Kesamaan bentuk dan ornamennya bukan sekadar kebetulan, melainkan gema dari kejayaan masa lalu yang kini terkunci di balik gerbang besi cagar budaya.

​Masyarakat mengenalnya sebagai Makam Selaparang II. Penetapan status hukumnya menjadi benteng pelindung bagi artefak yang tersisa, memastikan bahwa narasi kedaulatan Sasak tidak akan terhapus oleh laju zaman yang kian menderu.

​Langkah kaki pengunjung akan disambut oleh deretan makam penduduk setempat terlebih dahulu. Area pemakaman umum ini seolah menjadi pelapis bagi inti sejarah yang bersemayam jauh di bagian tengah lahan yang rimbun tersebut.

​Sebuah tembok permanen berdiri tegak sebagai garis batas yang tegas. Ia memisahkan antara peristirahatan warga masa kini dengan pusara para ksatria yang pernah bertaruh nyawa demi panji kerajaan di masa yang sangat lampau.

​Begitu melewati pembatas, mata akan tertuju pada hamparan lahan seluas lima are. Di sana, bebatuan alam tersusun sedemikian rupa, membingkai nisan-nisan dengan ukiran relief yang identik dengan gaya arsitektur pemakaman di Suela.

​Ketelitian para pemahat masa lalu terlihat pada gubahan batu nisan tersebut. Reliefnya yang rumit seolah bercerita tentang strata sosial dan kehormatan para penghuninya yang kini telah menyatu dengan keheningan tanah Sikur.

​Sebanyak puluhan makam telah berhasil diidentifikasi dan digali secara rapi. Mereka berjejer simetris, membentuk formasi yang mengingatkan kita pada barisan pasukan yang siap sedia menjalankan titah tertinggi dari sang penguasa.

​Di antara gundukan yang telah tersingkap, masih ada beberapa bagian tanah yang menyimpan misteri. Gundukan-gundukan tanah yang belum tersentuh ekskavasi itu diyakini masih menyimpan jasad-jasad lain yang belum terdata namanya.

​Namun, perhatian utama selalu tertuju pada satu titik tertinggi di kompleks tersebut. Sebuah makam berdiri lebih megah dan menjulang dibandingkan yang lain, memberikan aura kepemimpinan yang masih terasa kuat hingga hari ini.

​Masyarakat setempat mempercayai bahwa penghuni makam tertinggi itu bukanlah orang sembarangan. Ia adalah sosok sentral yang memegang komando atas puluhan nyawa yang terbaring di sekelilingnya dalam kesunyian yang abadi.

​“Kalau dari cerita masyarakat di sini, makam yang paling tinggi itulah panglima perang,” ungkap seorang warga lokal yang setia menjaga tradisi lisan mengenai identitas sang pemimpin yang dikuburkan di tempat istimewa itu.Sabtu (28/03/2026)

​Dahulu, wilayah ini merupakan pos pertahanan terakhir yang sangat krusial. Ketika gelombang serangan dari arah barat mulai mengancam kedaulatan, titik inilah yang menjadi sandaran harapan bagi keutuhan wilayah kerajaan.

​Konfrontasi hebat dengan kekuatan dari Pulau Dewata tidak terelakkan lagi. Di tempat yang kini tenang ini, denting pedang dan teriakan para pejuang pernah membahana, menciptakan drama kepahlawanan yang tragis dan memilukan.

​Sayangnya, takdir berkata lain bagi pasukan Selaparang. Meski telah bertahan dengan gigih, mereka harus mengakui keunggulan strategi dan kekuatan lawan yang akhirnya meruntuhkan pertahanan kokoh di jantung wilayah tersebut.

​“Konon di sinilah bersemayam prajurit perang kerajaan Selaparang yang kalah. Karena di sini dulunya merupakan pos pertahanan terakhir,” sambung warga tersebut sembari menatap deretan nisan batu yang bisu dalam sejarah.

​Kekalahan itu tidak lantas menghapus rasa hormat generasi penerus. Gugurnya seluruh pasukan di pos ini justru mengukuhkan status lahan tersebut sebagai tanah para syuhada yang setia hingga embusan napas terakhir mereka.

​Kini, selain menjadi objek penelitian sejarah, Makam Selaparang II tetap diselimuti tabir kesakralan. Bagi warga, tempat ini bukan sekadar tumpukan batu, melainkan ruang di mana logika sering kali tunduk pada mitos yang hidup.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU