Tradisi Budaya Desa Pengadangan dalam Bingkai Syariat Islam

PorosLombok.com, LOTIM –

Desa Pengadangan merupakan desa yang sampai saat ini masih menjaga adat tradisi para leluhur, desa yang syarat akan budaya, hal tersebut terlihat dari berbagai event yang di gelar di desa tersebut, baik tradisi dalam memperingati hari besar islam dan sebagainya.

Perpaduan atraksi budaya merupakan sebuah bingkai dalam tradisi Islam, namun hal tersebut bukanlah sesuatu yang menyimpang dari syariat, dan bukanlah sebuah akulturasi budaya yang menyesatkan.

Seperti kata Tokoh Adat Desa Pengadangan H.Asipuddin dalam Pidatonya digelaran Pesona Budaya pada Minggu (06/11) mengatakan, Kegiatan adat Tradisi budaya Desa Pengadangan Tidak ada satupun yang menyimpang dari syariat Agama islam, sebab dalam setiap kegiatan event budaya sudah dilakukan kajian mendalam bersama tokoh adat, tokoh agama dan para ulama.

Zaman yang semakin berkembang tak dapat menggradasi budaya dan adat di desa Pengadangan, apalagi dengan terbentuknya lembaga adat di tahun 2008 silam,  semakin memperkokoh kecintaan masyarakat pengadangan untuk memelihara warisan para leluhurnya.

“Adat dan budaya masyarakat sudah menyatu dengan jiwa masyarakat kami di desa Pengadangan” tegasnya

Kenapa dikatakan menyatu, sambungnya, Masyarakat desa Pengadangan akan merasa risih jika tidak menjalankan prosesi adat, baik adat hidup, adat kematian dan adat dalam menyambut hari besar islam, sehingga hal ini menjadi fundamen (dasar-red), masyarakat setempat.

H Asipudin mencontohkan dalam acara maulid Nabi Muhammad SAW, masyarakat desa pengadangan memperingatinya bukan hanya satu bulan saja, akan tetapi acara ini berlangsung selama tiga bulan, sebab ada beberapa alasan. dan hal ini merupakan sebuah warisan tradisi budaya sejak zaman dahulu kala.

Adapun maulid Nabi di desa Pengadangan dimulai dari bulan Sapar, Muharram, hingga Rabiul awal, namun dengan nama yang berbeda.

Ini penjelasan tradisi Maulid di desa Pengadangan

1. Bulan Muharram di Sebut Bubur Putek.

Konon menurut sejarah para ahli tasawuf bahwa bubur putek itu adalah simbol pertama kalinya bibit manusia, dimasukkan ke dalam alam Rahman, kepada seorang laki-laki sehingga ini merupakan lambang secara hakekatnya, akan tetapi secara syariatnya hal tersebut merupakan kejadian pada zaman Nabi Nuh As yang terjadi pada bulan Muharram.

2. Bulan Sapar disebut dengan Bubur Abang.

Bubur Abang menurut masyarakat Pengadangan adalah Maulid, karena merupakan simbol berpindahnya bibit manusia dari alam Rahman, menuju alam Rahim, sehingga bercampur menjadi merah yang bertemu di telaga al Kautsar, dan akan membentuk segumpal darah dan menjadi bibit manusia. Sehingga di bulan Rabiul awal lahirlah manusia suci yakni Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.

Hal ini merupakan makna dari beberapa tradisi budaya di desa pengandangan yang di kenal dengan “Adat Game”  sehingga masyarakat setempat harus berusaha melestarikan apa yang telah dilakukan oleh orang-orang tua pada zaman dahulu, tentu hal ini bukanlah sebuah penyimpangan.

“Kami tidak mau orang-orang tua kami dikatakan melakukan hal-hal yang berupa aib di catatan orang yang tidak faham, terutama di para generasi kami” tegasnya.

Kesimpulan

Adat tradisi budaya pengadangan merupakan tradisi yang sakral, yang dimana dalam pelaksanaannya mempunyai banyak makna yang sangat dalam, tanpa meninggalkan atau mengurangi tuntutan syariat islam yang terkandung didalamnya. Semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita semua tentang khazanah budaya sasak di Gumi selaparang.

Penulis : arul
Sumber : H Asipudin Tokoh Adat desa Pengadangan)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU