LOTIM – Poroslombok.com | UPT BLUD Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Lenek, gelar sosialisasi sekaligus pembentukan Juru Pemantau Jentik (Jumantik) dalam rangka pencegahan penularan demam berdarah (DBD).
Acara yang berlangsung pada Sabtu (27/8) di Aula Kantor Desa Lenek Pesiraman itu dibuka langsung oleh Kepala Puskesmas Lenek H. Multazam, kep.Ners, Narasumber dari Kasi P2P Dinas Kesehatan Munawir Haris dan diikuti peserta 18 kader Desa Lenek Pesiraman.
Kepala Puskesmas Lenek, H.Multazam, yang diwawancarai poroslombok.com usai membuka acara mengatakan, bahwa tujuan dibentuknya kader jumantik adalah sebagai upaya memberi pengetahuan kader tentang pentingnya cara pencegahan penyakit yang di sebabkan berbasis lingkungan yang salah satunya adalah DBD yang di sebabkan oleh nyamuk aedes agypty.
Selain itu, para kader tersebut diharapkan bisa menjadi perpanjangan tangan bagi tenaga kesehatan yang akan memberi informasi yang bermaafaat bagi masyrakat.
Sebagai tindak lanjut dari dibentuknya kader Jumantik tentu nantinya para kader mampu melakukan pemantauan, pelaporan dan evaluasi bersama petugas kesehatan, sehingga kasus DBD bisa dicegah lebih dini.
Dikatakannya, bahwa pembentukan kader Jumantik di Desa Lenek Pesiraman ini dikarenakan desa pesiraman adalah salah satu desa di kecamatan lenek yang pada tahun ini tren kasus DBD nya sebanyak 6 kasus.
Atas dasar kasus tersebut sehingga desa lenek pesiraman diprioritaskan untuk membentuk kader jumantik dan ini yang pertama dilakukan di wilayah PKM Lenek. Nantinya pembentukan kader jumantik ini akan berlanjut ke semua desa yang ada di wilayah PKM Lenek.
Sementara itu, Munawir Haris, selaku pemateri pada acara sosialisasi dan pembentukan kader jumantik tersebut memaparkan tentang ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti pembawa virus DBD yang dapat dibedakan dari bentuk dan corak warnanya.
Di Indonesia sendiri, virus ini ditularkan oleh dua jenis nyamuk demam berdarah betina, yaitu Aedes aegypti sebagai pembawa virus primer (utama) dan Aedes albopictus sebagai pembawa virus sekunder.
Dengan mengetahui ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti, urai Awenk begitu Munawir Haris biasa disapa, maka masyarakat bisa lebih waspada jika menemukan banyak nyamuk jenis ini berterbangan di lingkungan sekitar rumah mereka.
Dijelaskannya, nyamuk Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang membawa virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Uniknya, hanya nyamuk Aedes aegypti betina yang menyebarkan virus tersebut, sedangkan nyamuk jantan tidak.
“Selain virus dengue, nyamuk Aedes aegypti juga dapat membawa virus zika, chikungunya, dan demam kuning”paparnya.
Penyebaran virus oleh nyamuk Aedes aegypti mudah sekali terjadi di negara beriklim tropis, seperti Indonesia, terutama saat memasuki musim penghujan. Hal ini karena curah hujan yang tinggi membuat kondisi lingkungan sangat mendukung bagi nyamuk untuk berkembang biak.
Nyamuk Aedes aegypti bisa dikenali melalui warna dan bentuknya. Ciri khas nyamuk ini adalah ukurannya yang kecil dan memiliki tubuh berwarna hitam dengan belang putih di sekujur tubuhnya.
Nyamuk Aedes aegypti memilih bersarang dan bertelur di tempat yang lembap, seperti genangan air yang jernih. Di dalam rumah, nyamuk ini banyak ditemukan berkembang biak di tempat penampungan air, misalnya bak mandi, vas bunga, talang air, atau tempat minum hewan peliharaan.
Sementara itu, nyamuk Aedes albopictus, lanjut dia, lebih banyak ditemukan di penampungan air alami di luar rumah, seperti ketiak daun, lubang pohon, dan potongan bambu serta pada botol bekas minuman yang berisi air.
“Bila Anda memiliki kebiasaan menggantung baju di belakang pintu, Anda perlu waspada sebab tumpukan baju ini juga menjadi tempat hinggap yang disenangi oleh nyamuk demam berdarah,” jelasnya.
Selanjutnya ia menjelaskan cara mencegah perkembangbiakan nyamuk demam berdarah dengan melakukan beberapa hal. Diantaranya adalah dengan menguras penampungan air, seperti bak mandi, drum, kendi, atau toren air di rumah.
Tak hanya menguras, masyarakat juga perlu menggosok dinding penampungan air agar telur nyamuk yang menempel dapat dibasmi. Pengurasan bisa dilakukan minimal satu kali dalan sepekan, atau pengurasan setiap hari saat musim hujan atau pancaroba tiba.
“Jika menguras penampungan air tidak memungkinkan, Anda bisa memasukkan bubuk larvasida ke dalam penampungan air untuk memberantas jentik-jentik nyamuk,” jelasnya.
Selanjutnya, menutup rapat-rapat tempat penampungan air di rumah. Selain itu, juga disarankan untuk mengubur barang-barang bekas di dalam tanah untuk mencegah lingkungan yang kotor dan berisiko menjadi tempat nyamuk bersarang.
“Kita juga bisa membasmi nyamuk DBD dengan cara fogging atau pengasapan. Akan tetapi, fogging biasanya hanya dilakukan ketika kasus demam berdarah di daerah rumah Anda mulai meningkat,” tandasnya.
Usai pemaparan, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Terlihat para ibu-ibu kader posyandu yang hadir sangat antusias memberikan pertanyaan maupun berdiskusi langsung dengan pemateri.
(anas/pl)

















