PorosLombok.com – Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini (LAZ) melayangkan teguran keras terhadap pola kerja dinas terkait yang dinilai gagal memasarkan potensi daerah secara efektif hingga terkesan membuang anggaran.
Pucuk pimpinan daerah ini menyoroti strategi promosi event budaya yang selalu dilakukan secara mendadak sehingga tidak memberikan dampak positif terhadap angka kunjungan maupun durasi menginap wisatawan di hotel-hotel setempat.
Bupati Lombok Barat Lalu Ahmad Zaini menegaskan bahwa pemasaran agenda pariwisata kelas dunia seharusnya dilakukan minimal satu tahun sebelum pelaksanaan agar mampu menarik minat pelancong mancanegara yang berencana jauh hari.
“Kegagalan Dispar ini ada di promosinya. Harusnya promosi itu setahun sebelumnya, ini seminggu sebelumnya baru promosi, apa yang diharapkan?,” katanya.Kamis (05/03/2026).
Zaini menilai kebiasaan memasang baliho fisik hanya beberapa hari sebelum acara dimulai merupakan pemborosan dana publik yang tidak sebanding dengan daya ungkit ekonomi bagi masyarakat Lombok Barat.
Manajemen pariwisata kini dituntut untuk meninggalkan pola pikir lama yang hanya fokus pada pengguguran kewajiban administratif tanpa memperhatikan indikator keberhasilan berbasis data riil di lapangan.
“Ini waktunya pendek, berpromosi buat baliho itu cuma buang-buang uang saja. Ini yang saya tidak bisa terima,” ujarnya.
Optimalisasi media sosial dan platform digital menjadi harga mati bagi masa depan pariwisata Lombok Barat guna menjangkau target pasar yang lebih presisi serta menghemat biaya operasional promosi fisik.
Pimpinan daerah menginginkan perayaan budaya seperti Lebaran Topat menjadi magnet ekonomi yang kuat, bukan sekadar rutinitas seremoni yang kehilangan esensi sakralitas dan daya tarik bagi turis luar negeri.
“Saya tidak mau seluruh kegiatan itu sifatnya seremoni, tapi harus berdampak pada tingkat hunian dan aspek lainnya,” jelasnya.
Sinergi lintas kabupaten di wilayah NTB mulai dirancang untuk memperkuat posisi Lombok Barat sebagai pusat festival budaya unggulan yang mampu menggerakkan roda bisnis perhotelan dan UMKM secara berkelanjutan.
“Makanya kalau mau garap pariwisata ini serius caranya. Kalau hanya seremoni saja, mending tidak usah karena hanya membuang anggaran daerah,” pungkasnya.*















