PorosLombok.com – Lombok Barat selalu punya cara sendiri untuk merayakan kesetiaan pada tradisi yang memadukan napas religius dengan kearifan lokal yang kental. Di balik keriuhan pesisir, terdapat sebuah perayaan yang menandai puncaknya puasa sunnah enam hari di bulan Syawal, tepat pada 27 Maret.
Aroma ketupat yang dikukus di dapur-dapur warga mulai tercium, membawa ingatan pada cara para penyiar agama Islam terdahulu merangkul masyarakat. Para Wali di tanah Sasak menggunakan tradisi ini sebagai jembatan dakwah yang lembut dan penuh kedamaian.
Ritual ini bukan sekadar pesta pora setelah menahan lapar, melainkan bentuk syukur atas selesainya ibadah yang dijalani dengan penuh keteguhan. Masyarakat berduyun-duyun menuju makam-makam kuno, menghidupkan kembali memori kolektif tentang para leluhur.
Nyekar menjadi pembuka yang khidmat, di mana doa-doa dipanjatkan di pusara para penyebar agama yang telah berjasa menanamkan nilai tauhid. Suasana hening di area pemakaman menciptakan ruang refleksi bagi setiap peziarah yang datang berkunjung.
Setelah urusan spiritual selesai, kerumunan mulai bergerak menuju tepi pantai yang membentang dari Senggigi hingga Pantai Kuranji. Di sana, hamparan pasir menjadi saksi ribuan orang yang berkumpul membawa bakul berisi ketupat dan lauk-pauk tradisional.
Tradisi Begibung pun dimulai, sebuah prosesi makan bersama dalam satu nampan besar yang melambangkan semangat kesetaraan tanpa sekat sosial. Tidak ada yang lebih tinggi atau rendah ketika tangan-tangan mulai menjamah hidangan yang disediakan secara komunal.
Kebersamaan ini diperkuat dengan Roah, sebuah prosesi doa bersama untuk memohon keselamatan serta keberkahan atas hasil bumi yang melimpah. Nilai sakral tetap dijaga meski kini keramaian telah bertransformasi menjadi magnet pariwisata yang sangat besar.
Makna Filosofis dan Sejarah Lebaran Topat di Lombok
Pemerintah setempat berupaya mengemas tradisi ini menjadi festival budaya yang lebih tertata tanpa mengusik pakem asli yang sudah turun-temurun. Langkah bupati dan tokoh masyarakat menjadi simbol bahwa kepemimpinan tetap harus berpijak pada akar budaya.
Perjalanan ritual dimulai dengan penuh wibawa, di mana rombongan pemimpin daerah melakukan ziarah ke Makam Batulayar yang dianggap keramat. Sebelum sampai di sana, ada prosesi pengambilan air yang memiliki makna simbolis sebagai penyucian diri.
“Bupati bersama rombongan terlebih dahulu mengambil air di Lingkoq Beleq baru kemudian berjalan kaki menuju makam,” ungkap Ni Luh Ayu Budianti. Penjelasan dari Kepala Bidang Pemasaran Disparekrafpora tersebut menegaskan pentingnya tata cara yang benar.
Ada pergeseran kecil dalam teknis perayaan yang dilakukan demi menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kenyamanan para peserta yang hadir. Penggunaan kendaraan mobil dari titik awal menuju mata air suci menjadi salah satu adaptasi yang dilakukan.
Namun, unsur tradisional tidak ditinggalkan begitu saja karena rombongan tetap berjalan kaki menuju makam sebagai bentuk penghormatan. Langkah kaki yang serempak di atas tanah Lombok menciptakan irama penghormatan yang sangat terasa oleh warga sekitar.
“Perubahan itu dinilai tidak mengurangi kekhidmatan dan kesakralan acara,” lanjut Ni Luh Ayu Budianti memberikan jaminan atas kemurnian ritual tersebut. Adaptasi ini dipandang perlu agar tradisi tetap relevan dan bisa dinikmati oleh generasi muda.
Setelah prosesi di makam usai, rombongan beralih menggunakan cidomo, kereta kuda khas Lombok, menuju pusat keramaian di Senggigi Square. Gemerincing lonceng kuda berpadu dengan sorak-sorai warga yang telah menanti di sepanjang jalur perjalanan.
Di sana, Parade Gunungan Topat dilepas dengan meriah, menampilkan tumpukan ketupat yang disusun menyerupai gunung sebagai simbol kemakmuran. Bupati turut berjalan kaki bersama peserta parade, melebur dalam arus kegembiraan rakyat yang meluap-luap.
Tujuan akhir dari iring-iringan ini adalah Amphiteatre Pasar Seni Senggigi, sebuah lokasi yang dipilih karena fasilitasnya yang jauh lebih mumpuni. Area ini dianggap lebih siap menampung antusiasme massa dibandingkan dengan lahan terbuka di pesisir.
Di puncak perayaan, dilakukan prosesi pemotongan Topat Agung atau ketupat raksasa yang porsinya cukup untuk dinikmati oleh banyak orang. “Bupati akan melakukan prosesi pemotongan untuk dinikmati bersama masyarakat,” tambah Ni Luh dalam penjelasannya.
Kehadiran stan UMKM di sekitar lokasi acara memberikan ruang bagi pengusaha lokal untuk mengenalkan produk-produk unggulan khas daerah. Hal ini membuktikan bahwa tradisi mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat tanpa kehilangan identitas aslinya.
Panggung seni yang tertata rapi menampilkan berbagai pertunjukan yang mengisahkan sejarah panjang masyarakat Sasak dalam menjaga imannya. Setiap gerakan tari dan lantunan musik tradisional menjadi pengingat akan kekayaan warisan budaya yang tak ternilai.
Kemeriahan tidak lantas berhenti setelah ritual utama selesai, karena hiburan musik terus berlanjut hingga malam menyapa bumi Lombok Barat. Atmosfer perayaan yang dinamis menunjukkan betapa lenturnya budaya lokal dalam menyerap unsur modernitas yang ada.
Lebaran Topat pada akhirnya adalah sebuah cermin tentang bagaimana sebuah masyarakat menghargai sejarah, menjaga harmoni, dan merayakan kehidupan. Sebuah tradisi yang akan terus hidup selama cinta pada tanah kelahiran tetap bersemi di hati rakyat.
















