PorosLombok.com – Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB Wahyudin menyampaikan bahwa berbagai indikator ekonomi daerah menunjukkan tren penguatan yang semakin positif sepanjang tahun berjalan pada Rabu (1/7/2026).
“Secara umum, berbagai indikator menunjukkan perkembangan yang positif. Daya beli petani meningkat, sektor pariwisata terus bergerak, mobilitas masyarakat bertambah, dan aktivitas perdagangan luar negeri masih memberikan kontribusi yang baik terhadap perekonomian NTB,” kata Wahyudin.
BPS melaporkan bahwa pergerakan sektor-sektor produktif utama di NTB tetap tumbuh stabil. Kondisi ini membuktikan bahwa roda ekonomi masyarakat masih berjalan pada jalur yang tepat meskipun berada di bawah tekanan inflasi.
“Tekanan inflasi yang terjadi belum mengganggu pergerakan sektor-sektor produktif yang menjadi penopang utama perekonomian daerah,” ujarnya.
Mengenai capaian indeks harga, inflasi tahunan (year-on-year) NTB pada Juni 2026 tercatat berada di angka 3,55 persen. Kenaikan ini dipicu oleh penyesuaian harga energi serta fluktuasi harga pada beberapa komoditas bahan pangan.
“Inflasi Juni terutama dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax dan Pertamax Turbo, yang berdampak pada meningkatnya tarif angkutan udara,” jelasnya.
Selain sektor energi, kenaikan harga rumpun hortikultura seperti bawang merah dan bawang putih juga ikut menyumbang andil inflasi. Namun, dampaknya langsung teredam oleh melimpahnya pasokan hasil panen cabai rawit di pasar.
“Meningkatnya pasokan hasil panen di sejumlah daerah menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga stabilitas harga pangan,” katanya.
Kabar baik berlanjut pada sektor pertanian di mana tingkat kesejahteraan para petani terpantau semakin membaik. Nilai Tukar Petani (NTP) NTB pada periode Juni 2026 merangkak naik hingga mencapai level 130,95.
“Kenaikan NTP terutama ditopang oleh membaiknya kinerja subsektor tanaman pangan dan hortikultura melalui meningkatnya harga gabah, jagung, tomat, kacang tanah, dan bawang putih,” ujarnya.
Wahyudin menambahkan bahwa empat subsektor utama pertanian berhasil mencatatkan nilai indeks di atas angka seratus. Hasil ini mencerminkan bahwa aktivitas usaha tani di lapangan masih memberikan keuntungan yang menjanjikan.
“Data yang kami sampaikan menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat terus bergerak,” katanya.
Beralih ke sektor pariwisata, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang melonjak signifikan hingga menyentuh 41,07 persen. Gairah ini linier dengan lonjakan pergerakan wisatawan domestik yang menembus angka satu juta orang.
“Pertumbuhan kunjungan wisatawan tidak terlepas dari momentum libur panjang serta penyelenggaraan berbagai agenda berskala nasional dan internasional,” jelasnya.
Kehadiran ajang balap internasional seperti GT World Challenge Asia di Sirkuit Mandalika terbukti membawa dampak domino. Aktivitas ini sukses mendongkrak tingkat okupansi hotel dan menghidupkan moda transportasi lokal.
“Berbagai kegiatan tersebut memberikan dampak positif terhadap tingkat hunian hotel, transportasi, hingga aktivitas ekonomi masyarakat,” katanya.
Terakhir, performa perdagangan luar negeri NTB mencatatkan lonjakan fantastis dengan nilai ekspor akumulatif menembus angka 1,27 miliar dolar AS. Sektor hilirisasi tembaga dan komoditas perikanan menjadi motor utama pengiriman ke negara tujuan.
“Ke depan, stabilitas harga perlu terus dijaga agar penguatan sektor-sektor produktif ini dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat NTB,” pungkasnya.*















