LOTIM – PorosLombok.com || Ahli Waris almarhumah Lilis Sukmawati (25) warga Ketangga, Kelurahan Kembang Sari, Kecamatan Selong, Lombok Timur yang dibunuh oleh suaminya beberapa waktu lalu, menerima santunan jaminan kematian dan beasiswa dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan sebesar Rp. 129.000.000.
Penyerahan santunan secara simbolis oleh Kepala Cabang (Kacab) BPJS Lombok Timur kepada orang tua dan anak almarhumah dilakukan di Aula kantor Disnakertrans Lombok Timur, Jum’at (28/6/2024).
Kepala Cabang BPJS Lombok Timur M. Hanif Assyam mengatakan, bahwa jaminan sosial adalah sebagai jaring sosial ketika terjadi resiko kerja atau kematian dimana ahli waris menerima santunan yang bisa digunakan sebagai modal usaha untuk melanjutkan hidup, dan sebagai biaya pendidikan bagi anak almarhumah yang ditinggalkan.
“Kebetulan almarhumah meninggalkan satu orang anak (perempuan) yang baru berusia tiga tahun,” ucap Hanif Assyam.
Dengan adanya beasiswa ini, lanjut dia, anak almarhumah bisa melanjutkan pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) sampai perguruan tinggi.
Ia menjelaskan, untuk program BPJS Ketenagakerjaan meliputi jaminan kematian dan jaminan kecelakaan kerja. Untuk jaminan kematian akan diberikan kepada peserta dengan tidak melihat apakah dia meninggal saat bekerja maupun tidak.
‘ketika terjadi resiko meninggal dunia, itu langsung kami bayarkan 42 juta rupiah.
Beda dengan jaminan kecelakaan kerja dimana ketika peserta meninggalnya karna kecelakaan kerja, akan mendapatkan santunan dengan jumlah yang lebih besar.
Perbedaan lainnya, jelas dia lagi, seorang peserta BPJS yang meninggal biasa akan mendapatkan santunan jaminan kematian jika sudah terdaftar minimal tiga tahun.
“Kalo meninggal kecelakaan kerja, satu bulan jadi peserta bisa langsung mendapatkan santunan. Nah almarhumah ini sudah tiga tahun lebih jadi peserta,” jelasnya.
Di tempat sama, Suhaili (ayah almarhumah Lilis) merasa senang bercampur sedih dan terharu atas perhatian yang diberikan oleh pihak Disnakertrans dan BPJS yang sudah memberikan santunan dan bahkan sudah menggelar acara zikir dan doa bagi almarhumah Lilis, anak yang begitu dia sayangi sejak kecil.
“Pokoknya perasaan saya bercampur aduk, sampai saya mau menangis karna terus mengingat anak saya (Lilis-red). Saya ndak bisa membayangkan bagaimana sakitnya anak saya yang sudah diginikan (dibunuh-red),” ucap Suhaili penuh haru.
Ia merasa bersyukur atas upaya yang dilakukan oleh pihak Disnakertrans yang telah membantu dalam memfasilitasi keluarga yang ditinggalkan untuk mendapatkan santunan yang tentunya sangat bermanfaat bagi biaya pendidikan anak almarhumah.
“Kita merasa sangat bersyukur dan berterimakasih kepada pihak Disnaker atas segala bentuk bantuan dan perhatian yang sudah diberikan. Karna dengan ini anak almarhumah bisa mendapatkan beasiswa untuk sekolahnya nanti,” syukurnya.
Meski demikian, Suhaili tak dapat menyembunyikan rasa sedih yang teramat dalam yang ia rasakan saat ini. Sebagai orang tua, tak rela rasanya melihat anak yang dia sayangi harus meninggal dunia dengan cara yang sangat keji.
Hal itu sesungguhnya tidak pernah ia bayangkan. Sebab, semasih hayat, rumah tangga almarhumah bersama suaminya terlihat normal sebagaimana layaknya kebanyakan orang yang berkeluarga.
Di sisi lain, dirinya merasa ada sesuatu yang berbeda dengan suami Lilis yang selalu menjauh dari orang ketika menerima telpon dari seseorang. Ia mencurigai bahwa pelaku terlibat judi online namun tak mau terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga anaknya.
“Kalo curiga, memang kita sempat curiga. Apalagi kalo saya lihat raut wajah anak saya (almarhumah-red) sudah lama kelihatan tersiksa, tetapi dia tidak tidak pernah mau cerita saking dia menutupi suaminya,” tuturnya.
Tetapi nasi sudah menjadi bubur, Suhaili dan keluarga hanya bisa mendoakan keselamatan bagi putrinya tercinta, almarhum Lilis, serta berkomitmen untuk menjaga dan merawat anak semata wayang almarhumah.
(Anas/PL)















