Lombok Timur, PorosLombok.com– Kepala Dinas Perindustrian Lombok Timur, Azlan, mengungkapkan bahwa pabrik pengolahan porang di daerahnya akan segera diluncurkan. Rencananya, pabrik ini diharapkan dapat beroperasi pada Desember 2024, tepatnya pada minggu ketiga bulan tersebut.
Azlan menyampaikan, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Perindustrian untuk memastikan peluncuran tersebut dapat berjalan lancar. “Kami berharap Wakil Menteri atau paling tidak Direktur Jenderal bisa hadir di acara launching,” ujarnya pada Jumat (16/11/2024).
Progres pembangunan pabrik saat ini telah mencapai lebih dari 75%. Azlan menambahkan bahwa tidak ada kendala berarti dalam proses pembangunan, mengingat pabrik ini merupakan bangunan lanjutan yang telah mendapatkan pengawasan dari Kementerian.
Di sektor pertanian, khususnya dalam budidaya porang, Azlan menjelaskan bahwa luas lahan yang dikelola oleh petani porang di Lombok Timur mencapai 228 hektar. Petani-petani ini tergabung dalam Perhimpunan Petani Porang Nusantara (PPPN). “Ketuanya, Ilham, baru saja meninggal, dan kami akan segera mengadakan pemilihan kembali,” imbuhnya.
Saat ini, Lombok Timur memiliki 87 petani porang dan 35 industri kecil menengah (IKM) yang mengolah hasil pertanian tersebut. “Kami tersebar di lima kecamatan di Kabupaten Lombok Timur,” tambah Azlan.
Hasil produksi porang di daerah ini diharapkan cukup menjanjikan. Dalam satu hektar lahan, petani bisa memproduksi sekitar 20 ton. Dengan total luas lahan 228 hektar, hasil produksi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar setelah pabrik beroperasi.
Azlan menekankan bahwa tujuan utama dari pabrik ini adalah untuk menghindari fluktuasi harga yang merugikan petani. “Kami ingin menjamin stabilitas harga melalui perjanjian kerja sama yang berkelanjutan, agar tidak ada monopoli harga,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa penentuan harga harus dilakukan melalui kesepakatan antara petani dan pengusaha, dengan mempertimbangkan harga pokok produksi (HPP). “Kami berkomitmen melindungi petani agar tidak mengalami kerugian seperti yang terjadi pada petani tembakau,” ujarnya.
Meskipun kapasitas produksi pabrik ini tergolong kecil, Azlan tetap mendorong petani untuk aktif menanam porang. “Kami ingin memastikan bahwa produksi bisa mencukupi permintaan,” jelasnya.
Dari hasil kerja sama dengan pihak ketiga, kapasitas mesin yang digunakan di pabrik ini bisa mencapai 50 ton per hari. “Ini adalah tingkat kapasitas yang sangat besar,” tuturnya.
Kabupaten Lombok Timur juga berperan sebagai penyangga bagi daerah lainnya, seperti Lombok Tengah. “Kami berharap produksi dari pabrik ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal,” pungkas Azlan.
Dengan berbagai persiapan yang dilakukan, pabrik porang di Lombok Timur diharapkan dapat beroperasi secara optimal dan memberikan manfaat bagi petani serta masyarakat setempat.
(Arul/PorosLombok)














