(PorosLombok.com) – Plt Sekretaris Daerah (Sekda) NTB, Lalu Moh Fauzal, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi budaya lokal yang kian memudar di tengah generasi muda.
Hal ini ia ungkapkan saat menghadiri acara Ngaji Budaya yang digelar di Aula Mantan Bupati Lombok Timur, H. Ali Bin Dahlan, di Suryawangi, Sabtu (12/7).
“Kita geleng-geleng lihat generasi sekarang,” kata Fauzal dengan nada prihatin, menanggapi maraknya perilaku generasi muda yang dinilainya jauh dari nilai-nilai etika dan moral budaya Sasak.
Fauzal menyoroti fenomena nyongkolan yang belakangan ini berubah menjadi ajang joget di tengah jalan tanpa mengindahkan adab.
“Orang berjoget di tengah jalan pakai sapu’, pakai celana panjang. Ini sudah di luar etika dan moral kita sebagai bangsa Sasak,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kasus viral pernikahan dini yang terjadi di Lombok Tengah, di mana anak kecil terlihat nyongkolan sambil mengisap permen.
“Anak baru ingusan nyongkolan sambil hisap permen. Sangat tidak etis. Bagaimana kita bangga jadi bangsa Sasak?” tegasnya.
Untuk menyikapi kondisi ini, Fauzal mengungkapkan bahwa dirinya telah berdiskusi dengan Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal, mengenai perlunya perhatian lebih bagi budayawan.
Ia menyebut, stimulus selama ini diberikan untuk guru ngaji dan marbot, namun budayawan nyaris tak tersentuh.
“Kenapa budayawan kita ini kita biarkan? Padahal mereka juga ujung tombak pelestarian nilai-nilai lokal,” katanya.
Sebagai langkah konkret, Fauzal menyampaikan bahwa dalam struktur OPD baru yang telah disahkan bersama DPRD NTB, akan dibentuk satu instansi khusus bernama Dinas Kebudayaan.
“Ini perintah pusat. Di provinsi harus sudah ada Dinas Kebudayaan,” jelasnya.
Fauzal berharap, kehadiran dinas tersebut menjadi momentum bagi para tokoh budaya untuk terlibat langsung dalam menjaga dan menata ulang arah kebudayaan daerah.
“Kalau tidak, habis sudah kebanggaan kita sebagai bangsa Sasak,” ucapnya.
Ia juga mendorong Majelis Adat Sasak agar terus memperkuat referensi budaya dan membangun literatur yang bisa diwariskan ke generasi berikut.
“Kalau Ayahanda kita Pak Ali sudah tidak ada, siapa lagi? Kalau tidak ada proses alami yang kita tularkan, generasi ke depan akan kehilangan arah,” katanya.
Fauzal menegaskan, Gubernur NTB memberikan sinyal kuat untuk mendorong peran budayawan ke depan, termasuk kemungkinan pemberian stimulus.
“Tidak menutup kemungkinan, begitu kita punya Dinas Kebudayaan, ada stimulus yang bisa memotivasi budayawan bekerja,” pungkasnya.
(arul/PorosLombok)
















