Poroslombok.com • LOTIM –
Rahmad Maulana, bayi yang lahir melalui operasi sesar pada 13 Maret 2022 lalu di RSU Sumbawa, sampai saat ini masih harus menjalani berbagai proses pengobatan.
Pasalnya, bayi yang belum genap berusia 5 bulan tersebut terlahir dalam kondisi tidak memiliki lubang anus, dalam istilah medis disebut Atresia ani.
Rahmad Maulana merupakan anak ketiga dari pasangan Afandi dan Sultiah, keduanya berasal dari lombok timur, namun sudah lama menetap dan menjadi penduduk sumbawa.
Karena lahir dengan kelainan tanpa lubang anus serta kepala semakin membesar, sehingga harus dirujuk ke RSUP Mataram dengan jaminan JKN-PBI BPJS.
Saat ini Rahmad Maulana sedang dalam proses pengobatan di RSUP Mataram. Untuk sementara ini, bayi tersebut tinggal di rumah keluarganya di Dusun Temanjor, Desa Tanah Gadang, Kecamatan Pringgabaya untuk memudahkan kontrol selama proses pengobatan.
Salah satu kesulitan yang dirasakan orang tua Rahmad Maulana selain keperluan sehari-hari seperti susu, pempers dan lain-lain, yaitu transport dari temanjor ke RSUP Mataram selama menjalani proses pengobatan.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Sosial Lotim, H. Suroto, SKM.,M.Kes usai mengunjungi Rahmad Maulana di Dusun Temanjor untuk menindak lanjuti laporan yang masuk berkenaan dengan bayi tersebut.
“Dapat laporan tadi siang. Bayangan saya harus bantu urus ini dan itu yang berkaitan dengan BPJS dan lain-lain, karna warga lotim yang sudah domisili dan KTP sumbawa,” kata Suroto, kemarin (25|7).
“Makanya langsung kami kunjungi untuk mengetahui apa-apa kesulitan dan masalahnya. Alhamdulillah sudah punya BPJS,” imbuhnya.
Dikatakan Suroto, meskipun orang tua Rahmad Maulana sudah menjadi warga sumbawa, namun atas rasa kemanusiaan, pihaknya tetap merasa terpanggil untuk memberikan bantuan.
Saat ini, pihaknya sedang membangun komunikasi dan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, seperti Puskesmas BatuYang, Pemcam pringgabaya dan pihak lainnya.
“Alhamdulillah hari senin sudah mendapat respon dari beberapa relawan, seperti NTB.care dan Babinkamtibmas wilayah kecamatan pringgabaya dan hari selasa difasilitasi ke RSUP Mataram,” tuturnya.
Adapun terkait kendala transport dan keperluan lain-lain, kata dia, sedang dikoordinasikan dengan pihak-pihak terkait yakni ke bagian kesra, baznas dan BPKAD.
“Kalo BPJS-nya Alhamdulillah aman. Tinggal itu keluhannya, transport dan keperluan sehari-hari. Karna selama proses pengobatan, orang tuanya tidak dapat bekerja juga,” ungkap Suroto.
Sebagai pengetahuan, Atresia ani juga bisa disebut sebagai anus imperforata, yakni jenis cacat lahir yang terjadi saat usia kehamilan mencapai 5-7 minggu. Pada usia tersebut, rektum mengalami perkembangan yang tidak sempurna sehingga membuat kondisi lubang anus juga tidak dapat berkembang sempurna. Kondisi ini dapat terjadi pada 1 dari 5.000 bayi.
(Anas/pl)

















