close

SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

29.1 C
Jakarta
Sabtu, Desember 6, 2025

Evaluasi Pendakian Rinjani, Gubernur NTB Soroti Keselamatan dan Konservasi

PorosLombok– Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Dr. Lalu Muhamad Iqbal, mulai menggarap serius pembenahan tata kelola pendakian Gunung Rinjani.

Fokus utamanya bukan hanya soal wisata, tapi juga menyangkut keselamatan pendaki dan kelestarian alam.

Hal ini mengemuka saat Gubernur menerima kunjungan Founder Consina yang juga Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi untuk Vertical Rescue, Disyon Toba, dan tokoh senior panjat tebing nasional Harry Suliztiarto di ruang kerjanya, Kamis (3/7).

Pertemuan itu menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sistem pendakian di Rinjani secara menyeluruh, terutama menyangkut standar operasional prosedur (SOP) vertical rescue dan peralatan penunjangnya.

“Momentum ini harus dimanfaatkan untuk melakukan pembenahan menyeluruh terhadap sistem pendakian di Rinjani,” tegas Gubernur Iqbal.

Menurutnya, pemerintah masih punya cukup waktu untuk membenahi berbagai aspek sebelum musim pendakian kembali ramai. Tujuannya, Rinjani tidak hanya aman untuk didaki, tetapi juga tetap terjaga ekosistemnya.

“Saya punya waktu beberapa tahun ke depan untuk membenahi. Sehingga, pada akhirnya, Rinjani menjadi tempat yang safe untuk didaki dan tetap terkonservasi dengan baik,” ujarnya.

Tak hanya itu, Gubernur Iqbal juga mengungkap rencana kerja sama dengan PT Amman untuk pengadaan helikopter guna mendukung penanganan kondisi darurat. Namun, ia mengingatkan bahwa masih perlu kajian lebih lanjut mengingat helikopter yang ada belum tentu sesuai dengan kebutuhan evakuasi.

“Unit yang dimiliki PT Amman tidak sepenuhnya didesain untuk keperluan evakuasi, jadi perlu pembahasan lebih lanjut,” katanya.

Dalam pertemuan itu, Disyon Toba menyarankan perubahan strategi branding pendakian Rinjani. Ia mengusulkan agar istilah trekking diganti menjadi mountaineering. Menurutnya, perubahan istilah ini penting agar calon pendaki, terutama dari luar negeri, lebih memahami risiko dan mempersiapkan diri secara optimal.

“Perbedaan pemahaman kata tersebut dapat berdampak besar terhadap keselamatan dan kesiapan pendaki,” ucap Disyon.

Senada dengan itu, Harry Suliztiarto juga memberikan masukan penting. Ia menilai TNGR sebaiknya memiliki tim penyelamatan internal yang terlatih dan siaga, sebab selama ini peran SAR hanya bersifat pendukung.

“Tim SAR kita sudah cukup kewalahan. TNGR seharusnya punya unit sendiri. Kami juga mengusulkan pemasangan tali pengaman di jalur-jalur pendakian rawan untuk melindungi para pendaki,” tegas Harry.

Langkah evaluasi ini menandai era baru pengelolaan pendakian Rinjani. Pendekatannya tidak hanya berbasis wisata, tetapi juga menjamin keselamatan dan keberlanjutan alam yang menjadi aset NTB.

(*/porosLombok)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU

IKLAN
TERPOPULER