Soal Jabatan Ketua, Pengurus Kwarcab Lotim Ingatkan Izzuddin Tak Bikin Gaduh

LOTIM – PorosLombok.com | Wakil ketua Gerakan Pramuka Kwartir Cabang (Kwarcab) Lombok Timur Bidang Bina Wasa, Alimuddin Mesir, memberikan tanggapan sinis atas pernyataan kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Timur Izzudin, S.Pd di sebuah media yang menyebutkan jika dirinya siap menggantikan ketua yang saat ini dalam kondisi sakit.

Dikatakan Alimuddin, bahwa apa yang disampaikan oleh Izzuddin itu merupakan sebuah kekeliruan yang harus diluruskan. Pasalnya, selain di media Izzuddin juga menyampaikan keinginannya itu di hadapan peserta KMD yang notabene terdiri dari para guru yang baru mengenal Pramuka.

“Bahkan kemarin sudah saya warning juga setelah beliau berpidato, saya sampaikan seperti itu. Harusnya kalo mau berbicara tentang suksesi, bicaralah sama pengurus kecamatan, karna merekalah yang punya hak suara,” tutur Alimuddin saat ditemui di ruang guru SMKN 1 Selong, Selasa (19/12/2023).

Berkenaan dengan itu, ia kemudian menyampaikan tentang aturan organisasi yang sudah disepakati sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), baik menyangkut pemilihan anggota baru maupun tentang kepengurusan. Kesemuanya itu memiliki aturan main serta jenjang-jenjang yang harus dilalui.

Ia juga menyinggung pernyataan Izzudin yang mengatasnamakan Mabincab sebagai kekeliruan besar. Sebab, Mabincab adalah sebuah jabatan yang diemban oleh siapapun yang menjadi Bupati, dan siapapun yang menjadi kepala dinas maka secara otomatis menjadi anggota dalam kapasitas jabatannya, bukan atas nama pribadi.

“Jadi keliru dia (Izzudin-red) berbicara mengatasnamakan Mabincab tanpa dia berkoordinasi dengan ketua Mabincab itu sendiri. Terkecuali hasil rapat Majelis Pembimbing mengeluarkan rekomendas, baru boleh. Tapi kalo atas nama pribadi, itu liar dan saya anggap dis komunikasi,” kritiknya.

Ia menambahkan, untuk pergantian pengurus meski pun dalam bentuk musyawarah luar biasa dikarenakan ketidakmampuan, uzur, atau halangan-halangan yang bersifat fisik atau karena mengundurkan diri, tetap harus dilakukan berdasarkan mekanisme aturan pemilih.

“Aturannya kalo mau Muslub itu, minimal dua per tiga dari pengurus kecamatan / kwartir ranting itu memberikan usulan. Dan itu pun setelah Mabin menyetujui,” jelasnya.

Dengan demikian, ia menganggap pernyataan Izzudin tersebut tidak memiliki dasar yang ditengarai oleh kurangnya pemahaman sang Kepala Dikbud tentang kepramukaan.

Tak hanya itu saja, dirinya juga menyayangkan statment Izzudin yang mengatakan bahwa program Kwarcab Lotim tidak jalan dan terbengkalai akibat ketua sakit, karena faktanya Lombok Timur merupakan Kwartir Cabang tergiat di NTB.

Dikarenakan itu, selaku wakil ketua ia membantah pernyataan Izzuddin yang mengatakan program Kwarcab Lotim terbengkalai, karena tidak memiliki dasar dan alasan yang jelas. Meski begitu, dirinya tidak menampik kondisi ketua Kwarcab yang sedang sakit.

Namun, ucap dia, hal itu tidaklah elok untuk dijadikan alasan untuk melemparkan wacana pergantian. Terlebih moment saat ini sudah mendekati Pemilu. Lantaran itu, ia pun tak segan menyampaikan saran nasihat agar Izzuddin tidak mengeluarkan pernyataan yang dapat membuat gaduh.

Terlebih, syarat untuk menjadi ketua Kwarcab minimal yang seseorang itu pernah mengkuti Kursus Mahir Dasar (KMD). Sedangkan menurut penilaian dia, sosok Izzudin tidak pernah ikut Pramuka sejak kecil sehingga tidak memiliki pemahaman ataupun DNA Kepramukaan.

“Karena itu, saya minta supaya pak kadis itu tidak membuat kekacauan. Tidak terus-terusan membuat gaduh. Karena menjadi ketua Kwarcab itu tidak hanya soal jabatan, tapi soal hati nurani,” tandasnya.

Di tempat sama, salah seorang anggota Gerakan Pramuka ikut menimpali. Menurutnya, Pramuka memiliki aturan main yang diatur dalam AD/ART, sehingga siapapun yang ingin mengganti ketua Kwartir Cabang, harus mempelajari dulu AD/ART yang ada di Pramuka.

“Siapapun boleh menjadi ketua, karna Pramuka itu organisasi terbuka. Tetapi begitu masuk Pramuka, dia menjadi organisasi tertutup,” ujar sang anggota yang tidak menyebutkan namanya.

Artinya, terang dia, bahwa setiap anggota harus menjunjung tinggi nilai-nilai Pramuka. Bahwa Pramuka tidak mengenal suku, usia, dan jabatan, tetapi setiap individu di Pramuka harus tunduk dan tata kepada AD/ART yang ada.

“Jadi tidak seenaknya, saya siap jadi ketua, siap jadi ketua. Pelajari dulu AD/ART-nya baru berstatement. Sehingga tidak semakin membuat gaduh Lombok Timur ini,” ketusnya.

Menurut dia, semua anggota memiliki kesempatan untuk meduduki jabatan puncak sebagai ketua Kwartir Cabang. Tetapi, kata dia, kesemuanya itu akan disaring oleh prasyarat dalam AD/ART.

“Jadi nanti ada rapat, ada seleksi, ada pansel jika diadakan pansel, atau diusung dan dipilih oleh Kwartir Ranting kecamatan. Pramuka ini organisasi tua yang sudah matang dan punya Undang-Undang sendiri,” katanya.

Oleh karena itu, ia berharap kepada siapapun yang ingin menjadi ketua hendaknya mengikuti semua aturan main tanpa harus menyerang personal, lebih-lebih jika menyerang sikologis ketua yang sedang sakit.

“Tapi pramuka ini seksi, terlebih jelang tahun politik. Tetapi menurut saya kalo mau di PAW atau apa, sebaiknya jangan sekarang tetapi setelah Pemilu, karna kita mau menjaga kondusifitas daerah,” pungkas dia.

(Anas/PL)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU