Sukisman Azmy Ajak Para Santri Amalkan 4 Pilar Kebangsaan

Tanpa gerakan nasional pemasyarakatan dan pembudayaan, sambung dia, Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, esksistensi dan peranannya dari waktu ke waktu akan memudar.

“Jika ini tidak kita galakkan, maka pada gilirannya akan memengaruhi penyelenggaraan negara,” kata ASA, begitu Sukisman biasa dipanggil.

Diuraikan Sukisman, salah satu karakteristik Indonesia sebagai negara-bangsa adalah kebesaran, keluasan wilayah dan kemajemukan masyarakatnya.

Negara kita, lanjutnya, terdiri dari 1.128 suku bangsa, bahasa, ragam agama dan budaya yang tersebar di sekitar kurang lebih 16.056 pulau. Sudah barang tentu sangat rentan untuk dipecah-belah.

Untuk itu perlu konsepsi, kemauan dan kemampuan yang kuat dan memadai untuk menopang kebesaran, keluasan dan kemajemukan keIndonesiaan.

“Konsepsi tersebut disebut sebagai Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, atau Empat Pilar Kebangsaan,”jelasnya.

Diulas lebih lanjut, Empat pilar kebangsaan adalah tiang penyangga yang kokoh agar rakyat Indonesia merasa nyaman, aman, tenteram dan sejahtera serta terhindar dari berbagai macam gangguan dan bencana.

“Maka tiang penyangga suatu bangunan harus kuat, agar bisa berdiri secara kokoh. Bila tiang rapuh maka bangunan akan mudah roboh,” ulasnya.

Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara, sambung dia lagi, adalah kumpulan nilai-nilai luhur yang harus dipahami seluruh masyarakat, dan menjadi panduan dalam kehidupan ketatanegaraan untuk mewujudkan bangsa dan negara yang adil, makmur, sejahtera dan bermartabat.

Konsep Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara terdiri dari: Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU