Lombok Timur, PorosLombok.com – Ada yang beda dari aktivitas mahasiswa Prodi Geografi Universitas Hamzanwadi pekan ini. Mereka tak sedang sibuk di ruang kelas atau memelototi layar presentasi. Justru sebaliknya, puluhan mahasiswa turun ke sawah, masuk ke hutan, hingga menelusuri aliran air di kaki Gunung Rinjani.
Tujuannya? Mengintip langsung wajah asli erosi tanah dan bagaimana alam bekerja tanpa basa-basi.
“Kami sengaja mengajak mahasiswa ke lokasi-lokasi nyata untuk menyentuh langsung isu lingkungan, bukan cuma belajar dari slide presentasi,” ujar Ketua Prodi Pendidikan Geografi, Baiq Ahda Razula Apriyeni, M.Si., Minggu (19/5).
Empat titik jadi medan tempur mereka: Terasering dan Bendungan Kembar di Desa Suela, serta Blok Pidana dan Blok Pesusa di wilayah hutan Desa Sapit, Kecamatan Suela, Lombok Timur.
Dengan berbekal alat ukur, buku catatan, dan semangat peneliti muda, para mahasiswa diajak menelusuri dampak erosi, kualitas tanah, dan potensi konservasi.
Bukan sekadar “jalan-jalan akademik”, kegiatan ini jadi panggung latihan metodologi penelitian kuantitatif. Mereka dilatih mengambil sampel, mengukur variabel lingkungan, hingga mengolah data dasar di lapangan—mirip kerja-kerja lapangan ala profesional.
“Ini bukan cuma soal angka dan data, tapi soal kepekaan melihat perubahan lingkungan dari dekat,” tegas Baiq Ahda.
Menariknya, kegiatan ini juga membekali mahasiswa dengan keterampilan sosial. Mereka belajar kerja tim, berkomunikasi dengan warga, hingga merenungi pentingnya menjaga alam dari kerusakan.
“Saya baru sadar, ternyata erosi bukan cuma istilah buku. Di lapangan, kerusakan tanah itu nyata dan menyedihkan,” kata salah satu mahasiswa, Riki, yang ikut dalam kegiatan.
Sebagai penutup, mahasiswa akan menyusun laporan hasil observasi dan mempresentasikannya di kelas. Dari sana, teori, praktik, hingga refleksi akan dirangkai dalam satu ekosistem pembelajaran yang utuh.
Dua dosen pengampu ikut mendampingi langsung kegiatan ini, yakni Hasrul Hadi, M.Pd., dan Baiq Ahda Razula Apriyeni, M.Si.
“Kuliah lapangan ini jadi cara kami menyatukan ilmu, pengalaman, dan kesadaran lingkungan dalam satu paket,” pungkas Baiq Ahda.















