UPPKA Ngiring Maju Desa Leming Berhasil Kembangkan Produk “Mamato” dari Bahan Tomat

LOTIM – PorosLombok.com || Kelompok Kegiatan (Poktan) Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) “Ngiring Maju” Desa Leming, Kecamatan Terara telah berhasil mengembangkan produk usaha dari bahan tomat yang diberi nama “Mamato”.

Ketua Poktan UPPKA Ngiring Maju Fatin Mariama kepada poroslombok.com menjelaskan, nama Mamato itu diambil karna produk yang digagas oleh para kader Kelompok Kerja Kampung Keluarga Berkualitas binaan UPT3AKB itu, diambil dari kata kurma dan tomato.

“Ide itu muncul berawal dari rasa keprihatinan kami melihat harga tomat yang sebegitu jatuhnya karena hasil panen yang sangat melimpah,” ungkapnya.

Secara kebetulan ia pernah melihat produksi permen dari bahan tomat saat mengikuti pelatihan di Bandung. Dari dua hal yang ia lihat itu, maka timbul keinginan untuk mencoba mempraktekkan hal yang serupa.

Pertama kali mencoba, ia menyiapkan tomat sebanyak sepuluh kilo yang kemudian setelah diolah menjadi tiga kilo gram. Dari tiga kilo itu menghasilkan 15 pieces. Dalam satu kemasan berisi 200 gram.

“Lima belas pieces itu bisa kita jual 150 ribu, dengan modal 100 ribu,” bebernya.

Dari sana ia merasa tertantang untuk memproduksi lebih banyak lagi, sehingga pada kesempatan berikutnya mereka membeli tomat dalam jumlah besar, yaitu sebanyak dua keranjang yang isinya sebanyak 87 kilo gram.

Satu pieces mamato dengan isi 200 gram dibanderol seharga Rp.13 ribu untuk lokal. Baru-baru ini produk tersebut telah coba dipasarkan ke Bali dengan harga per pieces Rp.15 ribu.

“Kebetulan ada teman yang mengikuti event nasional di Bali, sehingga dibawa oleh tim BKKBN Provinsi NTB untuk dipamerkan,” ungkapnya.

“Tadi juga sudah ada yang pesan dari Bima, tapi minta diongkirkan,” imbuhnya.

Proses pembuatan permen Mamato relatif cukup sederhana. Bahan tomat yang sudah tersedia akan direndam selama satu malam. Setelah direndam, selanjutnya air ditiriskan hingga kering dan dibersihkan lalu dimasak dengan dicampur gula pasir atau gula merah.

Selain Mamato, para kader tersebut juga tengah mencoba mengembangkan produk lain yang bernama Steak Canting. Produk tersebut dikhususkan untuk mencegah stunting.

“Tapi untuk Steak Canting ini agak kesulitan kita untuk memproses ijin, karna ini prozen. Tapi mungkin nanti mainnya langsung kudapan aja, yaitu proses jadi langsung dikonsumsi di PMT gitu,” jelasnya.

Di tempat sama Sekretaris Desa Leming Subandi, SH memberikan dukungan penuh terhadap segala bentuk usaha masyarakat di wilayahnya. Ia bahkan berjanji akan mensuport dana dari BUMDes serta akan membantu pengadaan greenhouse.

“Yang jelas, kami dari Pemdes sangat mendukung segala bentuk usaha yang dapat mendongkrak perekonomian masyarakat,” tandasnya.

Sementara itu kepala UPT3AKB Kecamatan Terara L. Syamsul By mengungkapkan, bahwa saat ini para pelaku usaha tersebut masih kesulitan dalam memasarkan produknya.

“Sebenarnya kita bisa memproduksi dalam jumlah banyak. Tapi akan percuma kalo pangsa pasarnya belum jelas,” sebutnya.

Karena itu, ia berharap agar Dinas Perdagangan maupun Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Timur dapat membantu untuk mencarikan pasar agar usaha tersebut bisa bertahan, bahkan bisa terus berkembang.

“Melalui media ini saya minta kepada Dinas Perdagangan dan Dinas Koperasi untuk membantu memasarkan produk Mamoto ini,” tandasnya.

(Anas/PL)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TERBARU