​Jejak Datu Selaparang, Timba Mungguk, dan Mitos Penyembuhan di Lombok

Menelusuri Timba Mungguk, petilasan keramat Datu Selaparang di Lombok Timur yang dipercaya ampuh sembuhkan penyakit lewat ritual air suci dan karomah leluhur.

Lombok Timur, Poros Lombok -Destinasi keramat Timba Mungguk di Desa Tirtanadi kini menjadi magnet bagi pencari kesembuhan melalui tradisi spiritual Suku Sasak yang kental. Lokasi ini menyimpan memori kolektif tentang pelarian penguasa masa lalu di perbukitan Labuhan Haji.

​”Tempat ini merupakan peristirahatan sekaligus lokasi pemandian Datu Selaparang saat menghindari kejaran musuh,” ungkap Amaq Is, sang penjaga situs, baru baru ini.

​Masyarakat setempat meyakini titik mata air yang dikelilingi akar raksasa tersebut merupakan ruang pertemuan dimensi nyata dan gaib. Energi alam tersebut dipercaya mampu memulihkan berbagai penyakit fisik maupun gangguan non-medis bagi para pengunjung.

​”Timba Mungguk bagi kami adalah ruang sakral untuk memohon kesembuhan kepada Sang Pencipta,” jelasnya.

​Ritual pengobatan bermula dengan penyerahan sesaji berupa beras kuning, bunga, serta kemenyan sebagai simbol penghormatan terhadap entitas penjaga. Doa-doa khusus mengalir agar niat tulus pemohon selaras dengan restu leluhur yang mendiami kawasan perbukitan tersebut.

​”Air dari sumur akar pohon besar ini kami campur sirih, pinang, dan kembang sebelum memandikan pasien,” terangnya.

​Prosesi siraman air suci berlangsung tepat di bibir mata air sebagai syarat utama untuk menjemput pemulihan yang mereka harapkan. Meski kental dengan nuansa mistis, tokoh adat setempat tetap menegaskan bahwa tindakan ini hanyalah sebuah perantara.

​”Hasil akhir tetap menjadi ketetapan penuh Tuhan Yang Maha Esa,” tuturnya.

​Ritual Mistis di Balik Akar Raksasa

Seorang pria berbaju putih dan topi cokelat sedang mengambil air di sumber mata air alami yang dikelilingi akar pohon besar dan bebatuan lumut.
Penjaga situs Timba Mungguk sedang mengambil air suci di bawah akar pohon raksasa untuk ritual penyembuhan warga (Dok: PorosLombok/Istimewa).

​Keberadaan situs ini membuktikan betapa kuatnya akar kearifan lokal dalam menjaga harmoni kehidupan di tengah gempuran modernisasi medis. Fenomena tersebut menjadi simbol keseimbangan antara perawatan jasmani dan ketenangan batin bagi warga Lombok Timur.

​”Iman dan keyakinan pengunjung menciptakan energi positif yang mendorong proses pemulihan lebih cepat,” ujarnya.

​Salah satu peziarah bernama Ibu War menceritakan pengalaman emosional saat membawa cucunya yang sempat mengalami kesulitan bicara ke lokasi ini. Keajaiban kecil muncul ketika sang cucu mulai mengeluarkan suara tak lama setelah mereka menjalani ritual.

​”Cucu saya perlahan bisa berbicara berkat doa dan berkah dari tempat ini,” katanya.

​Kisah keberhasilan tersebut kini menyebar luas hingga menarik perhatian banyak wisatawan yang penasaran dengan keajaiban budaya Pulau Seribu Masjid. Upaya pelestarian terus berjalan agar warisan sejarah Selaparang ini tidak lekang oleh gerusan zaman.

​”Kami ingin lokasi ini tetap terjaga sebagai simbol hubungan manusia dengan Pencipta,” pungkasnya.

​Catatan sejarah menunjukkan bahwa wilayah Tirtanadi dulunya merupakan jalur strategis bagi para patih kerajaan yang sedang mengatur taktik perlawanan. Mereka kerap singgah untuk membersihkan diri sekaligus memulihkan stamina di sela-sela peperangan yang melelahkan.

​Pelestarian Warisan Sejarah Selaparang

​”Dulu para prajurit percaya air di sini sanggup membasuh duka dan kelelahan setelah bertempur,” jelas Amaq Is.

​Hingga saat ini, pohon-pohon besar yang menaungi sumber air berdiri tegak sebagai saksi bisu perjalanan panjang peradaban Islam. Suasana yang hening dan sejuk memberikan efek meditatif bagi siapapun yang melangkahkan kaki di area sakral tersebut.

​”Heningnya alam membuat pikiran lebih tenang sebelum memulai ritual doa,” paparnya.

​Uniknya, meskipun jumlah pengunjung terus bertambah setiap tahun, kelestarian ekosistem di sekitar sumber mata air tetap terjaga sangat ketat. Aturan adat melarang keras siapa pun merusak tumbuhan atau membuang sampah sembarangan di lingkungan ini.

​”Kami mewajibkan setiap tamu menjaga etika demi menghormati leluhur yang bersemayam,” terangnya.

​Langkah tegas ini bertujuan memastikan warisan spiritual tersebut tetap murni tanpa tercemar oleh modernisasi yang terkadang bersifat destruktif. Para tetua kampung rutin melakukan musyawarah untuk menjaga regulasi kunjungan agar tidak mengganggu kesakralan situs.

​”Penjagaan kami lakukan agar nilai budaya tetap menjadi prioritas utama di sini,” tambahnya.

​Bagi mereka yang datang dengan niat tulus, Timba Mungguk bukan sekadar kolam air, melainkan cermin dari keteguhan iman masyarakat. Keajaiban yang mengalir dari mulut ke mulut menjadi penguat harapan bagi orang-orang yang hampir putus asa.

​”Keyakinan adalah obat yang paling mujarab sebelum bantuan medis masuk,” tutup sang mangku.

​Ibu War pun rutin kembali mengunjungi lokasi ini sebagai bentuk rasa syukur atas pemulihan cucunya yang kini sudah sehat. Ia merasa memiliki utang budi spiritual yang harus dibayar melalui kunjungan berkala dan doa yang tiada putus.

​”Ini nazar saya, kalau sembuh pasti saya kesini, agar dia sembuh sempurna,” katanya.

(Poros Lombok).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU