Tradisi Malemal Masyarakat Muslim Desa Loyok

Sungguh sangat di khawatirkan jika lailatul qadar hanya dipahami oleh kalangan orang awam yang tidak mengerti tentang bagaimana cara beribadah dan beri’tikaf yang baik pada bulan Ramadhan, tanpa ada unsur-unsur yang membuat mereka menyiksa diri, dengan rela tidak tidur saat malam demi menggapai malam lailatul qadar.

“Setiap amalan yang dilakukan oleh manusia akan dilipat gandakan dengan
sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya, disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan untuk-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan, yaitu kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketukan ia berjumpa dengan Allah Ta’ala. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum disisi Allah Ta’ala daripada bau minyak kasturi.” HR. Bukhari Muslim.

Tradisi Malemal/Maleman Warga Muslim Desa Loyok

Warga muslim pulau Lombok khususnya di Desa Loyok Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur memiliki cara yang terbilang unik dalam memperingati nuzulul qur’an dan menyambut datangnya malam lailatul qadar, yaitu dengan cara menyalakan lampu atau yang disebut dile jojor yang terbuat dari bahan tanaman jamplung, buah jarak, dan kapas. Tradisi unik dan meriah ini disebut dengan malemal/maleman. Dile jojor itu dibakar lalu ditancap atau dipasang di
sekeliling rumah, masjid, musola, jalan-jalan, jebak (gerbang rumah), pemakaman
umum, hingga kemberas (wadah tempat menaruh beras).

Kegiatan ini merupakan agenda turun temurun guna menyambut peringatan Nuzul Qur’an dan datangnya malam Lailatul Qadar setiap malam ganjil, terutama sepuluh malam ganjil terakhir bulan ramadhan. Dimana Malam ganjil sepertiga akhir Ramadan adalah malam yang sangat diistimewakan oleh masyarakat terutama masyarakat desa Loyok. Sebab, ada sebuah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat yang disebut dengan malemal/maleman.

Malemal/Maleman adalah sebuah tradisi yang biasa dilakukan pada sepertiga terakhir bulan Ramadan. Tradisi ini ini dilakukan secara turun temurun, entah siapa yang memulai pertama kali, masih menjadi pertanyaan oleh setiap lapisan masyarakat. Biasanya tradisi ini dilakukan pada tanggal ganjil di sepuluh hari terakhir meliputi tanggal 21 sampai tanggal 29 bulan Ramadan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU