Tradisi Malemal Masyarakat Muslim Desa Loyok

Urgensi Tradisi Maleman Bagi ummat Islam

Tradisi Maleman diyakini masyarakat sebagai tradisi yang penuh berkah dan magfirah, karena merupakan tradisi sakral guna menyambut dan memeriahkan peringatan Nuzul Qur’an dan malam Lailatul Qadar, terutama tradisi ini dirangkai dengan kegiatan sosial dan ibadah yang tentunya akan menambah keberkahan acara tersebut. Mereka yakin dengan berbagai rangkaian.

Ibadah diatas akan menambah sempurna amalan ibadah dalam menjalankan ibadah puasa khususnya di bulan yang suci ini. Terutama pada malam sepertiga terakhir bulan ramadhan, dan khususnya setiap malam ganjil, karena malam tersebut diercaya turunnya malam lailatul qadar yang dimana dipercaya dengan malam seribu bulan. Inilah yang menjadi semangat masyarakat dalam melaksanakan ibadah dan tradisi malemal.

Dengan pelaksanaan tradisi maleman ini juga masyarakat akan berlomba-lomba dalam melaksanakan kebaikan dan ibadah lainnya, terutama ibadah sosial yakni saling berbagi baik itu makanan dan menu berbuka kepada jamaah yang lain.

Menurut bapak Haji Lalu Abdul Karim, tokoh masyarakat setempat menceritakan dahulu masyarakat sangat semarak dalam mempersiapkan perayaan malemal ini, bahkan dari sebelum datangnya bulan ramadhan sebagian masyarakat terutama anak anak sudah sibuk mengumpulkan buah jamplung, buah jarak dan bahan pokok lain untuk membuat dile jojor tersebut.

Bahkan makin kesini dirangkai dengan bunyi petasan tradisional yang disebut tikusan (meriam bambu) yang terbuat dari bahan bambu yang diisi dengan minyak tanah dan dibuatkan lubang sebagai sumbu pematiknya. Yang tentunya akan menambah
semaraknya tradisi maleman ini. Bahkan sekarang sudah ada petasan modern yang bisa menyala dan dengan suara yang lebih keras, ditambah lagi dengan sudah adanya lampu hias yang dipasang oleh remaja dan warga setempat yang tentunya akan semakin menambah hidupnya suasana tradisi maleman ini.

Hal tersebut bukan semata untuk memeriahkan tradisi tersebut semata , tapi dengan adanya perayaan dan kemeriahan tersebut akan menambah gairah dan semangat ummat Islam dalam menjalakan ibadah untuk mengisi malam-malam terakhir bulan ramadhan, terlebih malam lailatul qadar. Jamaah yang melaksanakan ibadah menjadi semakin khusuq dan khidmat karena pada malam tersebut sangat terang benderang yang dimana setiap sudut dihiasi oleh cahaya dile jojor dan tabuh bedug yang dimana pada masa itu listrik belum masuk dan masyarakat masih memaki alat penerang seadanya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU