Birokrat Profesional Itu Fokus Kepada Proses dan Kerja Nyata

Lombok Timur, PorosLombok.com –Sore itu, langit Lombok Timur mulai meredup. Udara terasa adem saat saya melangkah ke ruang kerja Sekretaris Daerah Kabupaten Lombok Timur, Drs.H.M. Juaini Taufik.M.AP.

Tidak ada kesan birokratis yang kaku di ruangan itu. Kursi-kursi empuk tersusun rapi. Aroma kopi dan suasana tenang menyambut.

Pria yang akrab dipanggil kak Ofik ini, duduk santai di sofa mewah yang terletak di pojok ruangan. Di tangannya, secangkir kopi hangat terlihat mengepul. Ia menyambut hangat, lalu kami larut dalam percakapan yang berujung pada topik yang tidak biasa: makna sebuah jabatan.

“Jabatan itu bukan sesuatu yang harus dikejar,” ujarnya sambil menatap ke luar jendela.

Menurutnya, jabatan hanyalah sebuah amanah. Ia menjelaskan bahwa dalam dunia pemerintahan, banyak orang yang tergoda menjadikan jabatan sebagai tujuan akhir. Padahal, tanggung jawab dan kerja nyata jauh lebih penting daripada gelar dan posisi.

Ia kemudian mengisahkan kembali cerita spiritual yang telah lama ia renungkan. Kisah tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang bertanya kepada Allah tentang buah khuldi yang dimakan Nabi Adam di surga. Sebuah pertanyaan yang tampak sederhana, namun menyimpan makna dalam tentang takdir manusia.

“Nabi Musa bertanya, mengapa Nabi Adam makan buah khuldi itu? Kalau tidak, manusia tidak akan hidup di dunia, tetap di surga,” katanya pelan, seolah mengajak saya merenung.

Ia menjelaskan bahwa dari cerita itu, ia menyadari bahwa segala sesuatu di dunia ini sudah ditetapkan. Apa pun yang dialami manusia, termasuk jabatan dan amanah, telah tertulis rapi di Lauhul Mahfudz.

Menurutnya, menerima kenyataan dengan ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha. Justru itu adalah bentuk tertinggi dari keyakinan dan kedewasaan dalam menjalani kehidupan sebagai pelayan publik.

“Yang penting itu bukan di mana posisi kita, tapi bagaimana kita menjalankan peran dengan sebaik mungkin,” ujarnya menambahkan.

Bukan Tentang Jabatan, Tapi Tanggung Jawab

Pengalaman panjangnya di birokrasi mengajarkannya banyak hal. Ia pernah merasakan bagaimana sulitnya menjaga idealisme di tengah dinamika politik dan birokrasi yang tak jarang penuh tekanan.

Namun, ia tetap berusaha berdiri di tengah. Menjalankan peran dengan kepala dingin dan hati yang bersih. Fokus pada kerja nyata, bukan pada popularitas atau kedekatan dengan kekuasaan.

“Kalau kita bekerja dengan sungguh-sungguh, hasil akan datang dengan sendirinya,” tegasnya.

Ia menyebut, seorang birokrat profesional adalah mereka yang bersedia mengabdi sepenuh hati, menjalani proses dengan sabar, dan menempatkan integritas di atas segalanya.

Menurutnya, tidak semua orang bisa menjaga sikap saat diberi kekuasaan. Tapi ia percaya, selama seseorang mampu fokus pada proses, bukan pada ambisi, maka jabatan pun akan datang pada waktunya.

“Fokus saja pada proses dan kerja nyata. Jangan kejar jabatan. Nanti juga akan datang sendiri kalau kita siap,” ucapnya, sambil menyandarkan punggung.

Juaini menekankan bahwa amanah harus dijalankan dengan rasa tanggung jawab, bukan hanya karena tuntutan sistem, tetapi karena dorongan hati nurani.

Sebelum obrolan kami berakhir, ia kembali mengingatkan bahwa keberhasilan seorang pejabat tidak diukur dari banyaknya penghargaan, melainkan dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.

“Kalau kita jalani semuanya dengan tenang dan ikhlas, Insya Allah, jalan terbaik akan terbuka,” katanya, kali ini dengan senyum tenang di wajahnya.

Saya keluar dari ruang kerja itu dengan perasaan yang berbeda. Satu pelajaran mengendap kuat: menjadi birokrat sejati bukan tentang seberapa tinggi posisi yang dicapai, tapi tentang seberapa dalam jejak kerja yang ditinggalkan.

(arul/PorosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU