Lombok Timur, Poros Lombok – Kebijakan pusat memicu kekhawatiran karena stabilitas ekonomi desa terancam, sehingga warga jangan terlalu berharap THR lebaran atau paket bantuan sosial yang biasanya rutin dibagikan pemerintah desa setiap tahunnya.
”Pemangkasan dana desa ini tentu akan berpengaruh terhadap program prioritas kita, termasuk bantuan sosial yang sangat krusial bagi warga,” ujar Ketua FKKD Lombok Timur, M. Khaerul Ihsan, Sabtu (14/2).
Ihsan menjelaskan sebelumnya pemerintah desa memiliki keleluasaan anggaran besar guna menyasar penduduk miskin yang tidak terakomodasi bantuan pusat melalui skema BLT sehingga lapisan masyarakat tertangani secara baik.
”Kondisi saat ini sangat kontras karena semula kita bisa menyantuni 50 orang, kini menyusut hanya menjadi 10 penerima saja,” jelasnya.
Fenomena tersebut memaksa seluruh jajaran kepala desa bekerja ekstra masif memberikan pemahaman logis kepada warga mengenai keterbatasan fiskal negara yang tidak memungkinkan lagi mendanai seluruh program jaring sosial.
”Masyarakat sebenarnya sudah mulai maklum bahwa dana desa dipangkas total, meski ada sebagian pihak yang tetap tidak mau tahu,” katanya.
Ia menyayangkan terhambatnya program strategis akibat sistem penganggaran baru yang mewajibkan eksekusi delapan poin prioritas nasional dengan kondisi dana sangat minim sehingga kualitas pelaksanaan tidak maksimal.
”Intervensi terhadap masalah stunting serta pemberian makanan tambahan bagi balita kini menjadi tidak maksimal dan cenderung tertunda,” ujarnya.
Munculnya persoalan administratif kartu keluarga yang belum daring sering menghambat lansia mengakses bantuan resmi pusat sehingga peran desa menjadi vital untuk memberikan talangan bantuan melalui dana operasional.
”Inilah tujuan desa hadir untuk menyasar warga yang belum tersentuh bantuan karena kendala administrasi, namun sekarang hal itu sulit dilakukan,” jelasnya.
Minimnya alokasi bantuan tunai diprediksi menjadi pemantik gesekan sosial terutama bagi warga yang sangat bergantung pada bantuan paket sembako untuk mencukupi kebutuhan pangan harian menjelang datangnya hari raya.
”Situasi ini jelas memicu konflik baru, apalagi momentumnya berdekatan dengan isu pemilihan kepala desa yang rawan menjadi komoditas politik,” katanya.
Potensi blunder politik bagi petahana kian nyata karena lawan politik sering memanfaatkan isu pemotongan bantuan untuk menggembosi kepercayaan masyarakat bawah demi kepentingan persaingan kursi kekuasaan di desa.
”Masyarakat tidak peduli ada pemotongan atau tidak, pokoknya bantuan harus tetap tersedia seperti tahun-tahun sebelumnya,” katanya.
Ihsan menambahkan desa di Nusa Tenggara Barat bergantung pada kucuran pusat karena minimnya aset tanah pecatu yang bisa dikelola menjadi pendapatan asli desa guna membiayai program bantuan sosial secara mandiri.
”Pemerintah pusat seolah tidak menyadari bahwa kebijakan ini menimbulkan riak-riak keresahan yang sangat nyata di tengah kehidupan warga desa,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, ia berharap Pemerintah Kabupaten Lombok Timur memberikan diskresi khusus mengenai sinkronisasi data kemiskinan agar penyaluran bantuan daerah yang terbatas tetap menyasar warga yang tepat.
”Kami memohon agar daerah memberikan kewenangan pendataan mandiri bagi warga yang tercecer dan belum masuk dalam sistem DTKS,” katanya.*
















