PorosLombok.com – Jumat Malam, (07/03) di Lombok Timur terasa syahdu. Langit bertabur bintang, angin berembus pelan membawa hawa dingin yang menyusup ke kulit. Dari kejauhan, sayup-sayup suara dzikir terdengar dari masjid-masjid yang masih ramai oleh jemaah.
Di tengah suasana yang penuh ketenangan itu, panggilan telepon tersambung dengan Drs. HM Juani Taofik, M.AP, Sekretaris Daerah (Sekda) Lombok Timur, yang akrab disapa Kak Ofik. Suaranya terdengar ramah, diiringi suara orang berbincang di latar belakang. Sepertinya, ia masih berada di sekitar masjid setelah shalat tarawih.
“Ramadhan bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ini adalah momen untuk menata hati, belajar bersabar, ikhlas, dan menumbuhkan kasih sayang kepada sesama,” ujarnya.
Jawaban itu membawa pada bayangan suasana Ramadhan di Lombok Timur. Di sebuah rumah sederhana, seorang ibu sibuk menyiapkan hidangan sahur seadanya. Di sudut lain, sekelompok bapak-bapak bercengkrama di berugak—gazebo khas Lombok—sambil menyeruput kopi panas selepas tarawih.
Keheningan malam semakin terasa. Beberapa anak kecil masih terlihat berlarian di halaman masjid, wajah mereka penuh keceriaan meski kantuk sudah mulai menyerang. Di dalam masjid, beberapa jemaah masih khusyuk menadahkan tangan, memanjatkan doa-doa terbaik di bulan penuh berkah ini.
Kak Ofik terdiam sejenak sebelum kembali melanjutkan, “Mungkin sejak saya memahami bahwa Ramadhan bukan hanya ritual tahunan. Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, dan mempererat hubungan dengan sesama.” Akunya.
Jawabannya mengingatkan pada sosok seorang lelaki tua yang selalu duduk di pojok masjid. Tangannya menggenggam tasbih, wajahnya penuh ketenangan. Mungkin ia tengah memanjatkan doa panjang, memohon ampunan, atau sekadar mengenang masa-masa yang telah berlalu.
Menahan ego, menumbuhkan kasih sayang
Kak Ofik terdengar tersenyum sebelum berkata, “Bukan soal lapar atau haus. Yang paling sulit adalah menahan diri dari amarah, ego, dan perasaan iri. Itu yang sebenarnya kita latih selama Ramadhan. Kalau bisa mengendalikan itu, berarti kita benar-benar memahami esensi puasa.”
Jawaban itu seperti menyentil hati. Seorang pedagang kecil di sudut pasar menutup warungnya lebih awal agar bisa berbuka bersama keluarga. Seorang ayah berusaha menutupi kegelisahannya karena bahan makanan di rumah semakin menipis.
Di pinggir jalan, seorang pengendara motor menepi sejenak. Ia merogoh sakunya dan memberikan selembar uang kepada seorang peminta-minta yang duduk di trotoar. Momen-momen seperti inilah yang sering terlihat di bulan Ramadhan—saling berbagi tanpa perlu diminta.
“Ramadhan mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap sesama. Ada banyak orang di luar sana yang hidup dalam keterbatasan, yang mungkin setiap hari harus menahan lapar, bukan karena berpuasa, tetapi karena keadaan,” lanjutnya.
Kata-katanya begitu menohok. Di balik semaraknya bulan suci ini, ada mereka yang harus berjuang lebih keras untuk bisa sekadar makan sahur atau berbuka dengan layak.
Tanpa ragu, ia menegaskan, “Semoga kita semua bisa menjalani Ramadhan dengan penuh keikhlasan. Tidak hanya meningkatkan ibadah, tapi juga menanamkan kebiasaan baik yang terus kita bawa setelah bulan ini berakhir.” Ungkapnya.
Percakapan berakhir. Langit malam terasa lebih tenang, sementara suara dzikir dari masjid masih menggema.
Ramadhan memang bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ia adalah perjalanan hati—menuju kesabaran, keikhlasan, dan kasih sayang yang lebih dalam.
Arul | PorosLombok



















