Lombok Timur, PorosLombok.com – Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Desa Loyok yang selama ini mati suri bakal dibangkitkan kembali. Pemerintah Desa (Pemdes) Loyok telah menyiapkan alokasi 20 persen Dana Desa sesuai dengan regulasi Permendes untuk menyuntikkan dana segar. Namun, ada satu syarat mutlak, kepengurusan lama harus dibongkar!
Penjabat Sementara (Pjs) Kepala Desa Loyok, Abdillah, S.AP, menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Sebelum dana dikucurkan, pengurus Bumdes yang lama harus terlebih dahulu memberikan laporan pertanggungjawaban yang jelas.
“Kita tak bisa begitu saja melanjutkan tanpa kejelasan. Pengurus lama harus segera melaporkan apa yang telah mereka kerjakan. Kalau anggarannya tak jelas, kita tak bisa teruskan,” tegas Abdillah, Rabu (05/02).
Menurutnya, revitalisasi Bumdes tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Jika ada pengurus lama yang masih aktif dan memiliki kontribusi nyata, mereka mungkin bisa dipertahankan. Namun, jika hanya sekadar numpang nama tanpa peran signifikan, maka mereka harus diganti.
“Bisa saja ada satu atau dua yang masih dipertahankan, tapi kalau ada yang tak berkontribusi, lebih baik diganti. Bumdes ini harus dijalankan dengan serius,” tambahnya.
Selain merombak kepengurusan, Pemdes Loyok juga berencana mengubah strategi bisnis Bumdes. Usaha-usaha yang tidak produktif akan dicoret dan digantikan dengan sektor usaha yang lebih menjanjikan serta mampu menunjang ketahanan pangan desa.
“Kita ingin Bumdes ini benar-benar mendukung ekonomi desa. Jangan sampai ada usaha yang cuma jalan di tempat tanpa memberikan dampak nyata,” tegas Abdillah.
Sebagai bagian dari strategi baru, Pemdes Loyok juga akan memanfaatkan momentum Program Makan Siang Gratis (MBG) yang digagas oleh Prabowo melalui Kementerian Pertahanan.
“Program MBG ini adalah peluang besar. Jika Bumdes bisa berperan dalam penyediaan bahan pangan atau distribusi makanan, ini bisa menjadi tambahan pendapatan bagi desa,” jelas Abdillah.
Saat ini, Pemdes tengah mengeksplorasi sektor usaha yang paling cocok untuk mendukung program tersebut. Produksi pangan lokal, pengolahan makanan, dan distribusi pangan menjadi beberapa opsi yang sedang dipertimbangkan.
“Yang jelas, kita tidak mau melewatkan peluang besar ini. Kalau Bumdes bisa mengelola sektor pangan dengan baik, kita bisa turut mendukung ketahanan pangan nasional dan memperkuat perekonomian desa,” ujarnya.
Dalam waktu dekat, Pemdes Loyok akan memanggil pengurus lama untuk meminta laporan pertanggungjawaban mereka. Jika tidak ada laporan yang jelas, maka struktur kepengurusan akan segera dirombak total.
“Dana sudah ada, strategi sudah siap. Sekarang tinggal eksekusi. Kalau Bumdes masih dikelola seperti dulu, kita tak akan bisa maju,” tandasnya.
Dengan langkah tegas ini, Pemdes Loyok optimistis Bumdes dapat kembali beroperasi secara produktif dan turut mendukung Program Makan Siang Gratis. Ini bukan sekadar soal menghidupkan kembali Bumdes, tetapi juga membangun ketahanan pangan berkelanjutan bagi masyarakat.
Arul | PorosLombok















