(Lombok Timur, PorosLombok.com). – Polemik seputar angka kemiskinan di Lombok Timur kian memanas. Ahmad Masfu, Asisten II Bidang Ekonomi Pemerintah Daerah Lombok Timur, mencoba memberikan klarifikasi terkait perbedaan data yang dipaparkan berbagai pihak.
Dalam wawancara dengan PorosLombok, Senin (23/09), Ahmad Masfu menyatakan bahwa perbedaan ini adalah soal interpretasi data. Menurutnya, esensi dari data ini adalah melihat tren penurunan, bukan sekadar angka absolut.
“Yang perlu kita perhatikan adalah bagaimana upaya pemerintah daerah selama ini dalam menurunkan angka kemiskinan,” ujar Masfu.
Meskipun angka kemiskinan di Lombok Timur masih tinggi, Masfu menilai hal tersebut wajar mengingat status kabupaten ini sebagai salah satu yang terpadat di Nusa Tenggara Barat (NTB). Ia berpendapat bahwa penurunan ini mencerminkan efektivitas program yang dijalankan.
“Wajar jika angka kemiskinan kita masih besar, namun ada penurunan yang signifikan,” imbuh Masfu.
Masfu menunjukkan penurunan angka kemiskinan sebesar 1,2 persen di Lombok Timur, yang lebih baik dari capaian provinsi NTB sebesar 0,9 persen. Ia menilai, capaian ini adalah indikasi positif dari kebijakan yang diterapkan saat ini.
“Ini yang seharusnya menjadi fokus, bukan hanya melihat jumlah yang besar,” kata Masfu.
Lebih lanjut, Masfu mengungkapkan bahwa penurunan jumlah warga miskin dari 193 ribuan menjadi sekitar 185 ribuan adalah bukti konkret dari keberhasilan program pemerintah daerah. Ia mengajak masyarakat untuk melihat situasi ini dalam konteks yang lebih luas.
“Kita tidak bisa bandingkan dengan kabupaten lain seperti Sumbawa Barat atau Lombok Utara karena populasi kita jauh lebih besar,” jelas Masfu.
Melalui penjelasan ini, Masfu berharap masyarakat bisa lebih memahami situasi yang dihadapi Lombok Timur. Ia menegaskan bahwa kerja sama semua pihak menjadi kunci utama dalam menurunkan angka kemiskinan secara berkelanjutan.
“Kerja kita belum selesai, tapi arah kita sudah tepat,” tutup Masfu.
(Arul/PorosLombok)















