Poroslombok.com | LOTIM – Bupati Lombok Timur, HM. Sukiman Azmy, pada 2021 lalu mencanangkan budidaya tanaman sorgum. Sorgum adalah biji-bijian sereal yang bentuk tanamannya tinggi seperti jagung, orang lombok menyebutnya buleleng.
Pada masa lampau, sebagian masyarakat lombok menjadikan biji sorgum sebagai bahan pangan alternatif makanan pokok pengganti beras. Namun seiring waktu, varietas tanaman sorgum mulai jarang ditemukan.
Kini, budidaya sorgum mulai digalakkan kembali. Adalah Bupati Sukiman yang menginisiasi program tersebut dengan mempertimbangkan potensi lahan yang ada. Juga untuk menghijaukan bumi lombok timur sepanjang tahun.
“Penanaman sorgum ini atas inisiatif pak Bupati. Jadi, beliaulah yang punya ide, beliau merencanakannya tahun lalu,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Lotim, Ir. Sahri, kepada poroslombok.com, Jum’at (29|7).
Meski sudah direncanakan sejak 2021 lalu, sambung Sahri, namun baru bisa terlaksana pada tahun 2022 ini. Sesuai rencana bupati, pada tahun ini mulai ditanam pada lahan seluas 500 hektar, sebagai permulaan.
Dari luas 500 hektar yang direncanakan, semuanya terbagi habis di lima kecamatan saja. Yakni Kecamatan Jerowaru, Aikmel, Pringgabaya, Suela dan Kecamatan Sambalia.
Dijelaskan Sahri, tanaman sorgum memiliki berbagai kelebihan bila dibandingkan dengan tanaman lain. Rupanya, kata dia, bupati mampu melihat potensi yang ada pada tanaman tersebut.
Adapun beberapa kelebihan tanaman sorgum yang pertama, satu kali tanam sorgum bisa panen 2-3 kali. Periode panen sorgum adalah 115 hari atau setara tiga bulan lebih. Jika dikalikan tiga maka satu kali tanam bisa sampai 9 bulan.
“Maka, akan kelihatan lombok timur ini akan hijau sepanjang tahun, sesuai harapan pak bupati,” ujarnya.
Yang kedua, tanaman sorgum tidak membutuhkan banyak air, sehingga tetap bisa tumbuh walaupun musim kemarau. Jenis tanama ini membutuhkan air hanya pada saat berkecambah saja, selebihnya cukup dengan air embun.
Ketiga, tanaman sorgum mampu menetralkan PH tanah. Artinya, tanah yang terlalu asam dan atau terlalu basah bisa dinetralkan.
Yang keempat, setiap bagian tanaman sorgum tidak ada yang terbuang percuma. Pasalnya, selain panen biji, batangnya pun juga ikut bisa dipanen, karna mengandung air gula layaknya batang pohon tebu. Selain juga sangat bagus dijadikan sebagai pakan ternak.
Selanjutnya yang kelima, bila dibandingkan dengan jagung, tembakau, padi dan lain-lain sorgum termasuk jenis tanaman yang paling gampang tumbuh serta tidak membutuhkan biaya besar.
Kelebihan-kelebihan itu mulai dirasakan setelah pada minggu yang lalu mulai dilaksanakan panen perdana di jerowaru. Hasilnya, tutur Sahri, sangat bagus dan sangat menjanjikan.
Di saat bersamaan, pemda lotim melalui dinas pertanian menyampaikan laporan kepada Kementerian Pertanian RI. Tiga hari setelahnya, pihak kementan turun langsung ke lapangan untuk melihat tanaman sorgum tersebut.
“Pada saat itu, pihak Kementan langsung terpukau melihat kualitas sorgum kita. Batangnya, malainya, kemudian bijinya, semuanya jauh lebih unggul dibandingkan dengan NTT,” ungkapnya.
Atas hasil memuaskan itu, lanjut dia lagi, pihak Kementerian Pertanian merencanakan pada tahun 2023 nanti untuk mengembangkan tanaman sorgum seluas 55 ribu hektar untuk seluruh Indonesia.
Menariknya, dari 55 ribu hektar yang direncanakan itu, lombok timur akan dijadikan skala prioritas. Nantinya lotim akan diberikan keleluasaan untuk menentukan berapa hektar yang akan di ambil, baru sisanya akan diberikan ke daerah lain se-Indonesia.
Bukan itu saja, lombok timur juga direncanakan menjadi sumber benih nasional tentang sorgum. Bahkan akan dijadikan juga sebagai pilot project (percontohan-red) dalam pengembangan tanaman sorgum seluruh Indonesia.
Luar biasanya lagi, lombok timur pada tahun 2023 nanti akan mendapatkan bantuan full paket dari pusat. Artinya, tidak hanya benih saja, tapi pupuk maupun obat-obatan akan diberikan oleh pemerintah pusat melalui Kementan.
“Intinya kita hanya menerima manfaat dari kegiatan ini, dananya dari pusat,” tandasnya.
Selanjutnya terkait harga sorgum sendiri dijual seharga tiga ribu rupiah per kilo gram. Sedangkan harga batangnya dijual seharga seratus rupiah per kilo. Dari harga itu, petani bisa mengantongi tiga juta rupiah dalam satu hektar dari batang saja dan dari satu kali panen saja.
“Dari batang saja sudah dapat segitu, belum bijinya. Dan pangsa pasarnya tidak perlu dipikirkan, karna sudah saya diskusikan dengan kementerian dan off taker nya, dia siap membeli semua produksi sorgum kita,” pungkasnya.
(Anas/pl)

















