(Mataram, PorosLombok.com) – Lima tahun berlalu sejak pasangan Zul-Rohmi mengarungi derasnya arus pembangunan di Nusa Tenggara Barat (NTB). Selama periode ini, visi industrialisasi yang mereka usung, terutama dalam pengembangan motor listrik, menjadi sorotan tajam dari berbagai kalangan. Pertanyaan besarnya: sejauh mana visi ini membuahkan hasil nyata bagi masyarakat NTB?
Muhammad Khairul Ikhwan, mantan Kepala Bidang SMK, yang juga Pendiri SMK Ondak Jaya adalah tokoh di balik layar yang menyulut api inovasi ini. Berawal dari SMKN 1 Lingsar, inisiatif ini mengusung model Teaching Factory, di mana siswa dilatih untuk menciptakan produk nyata melalui praktik langsung. “Kami menantang siswa untuk berpikir kritis dan menerapkan ilmu dalam praktik,” ujar Khairul, memaparkan semangat perubahan dari balik meja kerjanya yang sederhana.
Namun, seperti cerita sukses lainnya, perjalanan inovasi ini penuh liku. Keberhasilan dan kegagalan menjadi bagian dari proses yang harus dilalui. “Kegagalan adalah guru terbaik,” tegas Khairul, menggarisbawahi bahwa setiap langkah mundur adalah kesempatan untuk belajar dan memperbaiki.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci untuk menghasilkan produk lokal yang kompetitif di pasar nasional dan internasional. Meski demikian, regulasi yang ketat kerap menjadi penghalang. Setiap produk mesti melalui proses uji tipe, uji TKDN, hingga memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Proses ini tidak hanya memakan waktu, tetapi juga menuntut kegigihan dan kesabaran para inovator.
Setiap iterasi produk bertujuan untuk memenuhi standar minimal yang telah ditetapkan. Di tengah tantangan tersebut, NTB yang sebelumnya tidak dikenal dalam peta inovasi nasional, kini mulai menunjukkan tajinya. Transformasi ini menyorot NTB sebagai pemain baru yang patut diperhitungkan dalam lanskap inovasi Indonesia.
Semangat ini mendorong SMK, perguruan tinggi, dan UMKM di NTB untuk lebih berani berinovasi. Keberanian ini dibuktikan ketika NTB mengirimkan tiga tim dalam ajang bergengsi Shell Eco Marathon Asia Pacific di Mandalika 2024. Meski belum meraih prestasi gemilang, partisipasi ini menegaskan potensi besar generasi muda NTB.
“Semangat berinovasi ini lahir dari ekosistem yang telah terbentuk,” ungkap Khairul, menekankan pentingnya lingkungan yang mendukung untuk memupuk inovasi. Publik kini menanti terobosan berikutnya dari NTB, dengan harapan motor listrik ini bukan hanya sekadar produk percobaan, tetapi fondasi awal ekosistem inovasi yang tangguh.
Langkah ini menjadi strategi menuju masa depan lebih inovatif dan berkelanjutan. NTB kini berada di jalur yang sama dengan negara-negara yang dahulu dipandang sebelah mata, namun kini mendunia, seperti China. Dengan ekosistem yang terus berkembang, peluang menciptakan produk berkualitas semakin terbuka.
Dukungan terhadap iklim inovasi harus terus ditingkatkan, siapapun pemimpinnya nanti. Kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor swasta menjadi kunci keberlanjutan inovasi ini. Pemerintah daerah perlu mendorong kebijakan yang memfasilitasi riset dan pengembangan teknologi.
Selain itu, lembaga pendidikan harus menyesuaikan kurikulumnya dengan kebutuhan industri agar lulusan siap bersaing di dunia kerja. Dengan demikian, sinergi antara pendidikan dan industri terjalin baik, sehingga inovasi yang dihasilkan lebih relevan dan aplikatif.
Dengan komitmen dan sinergi kuat dari berbagai pihak, NTB berpotensi menjadi pusat inovasi di Indonesia. Meski perjalanan penuh tantangan, dengan ketekunan, NTB bisa menjadi model sukses penerapan dan pengembangan teknologi dalam negeri.
Akhirnya, keberhasilan ini diharapkan dapat memotivasi daerah-daerah lain di Indonesia untuk mengikuti jejak NTB dalam mendorong inovasi lokal. Tetap semangat, NTB! Langkah kecil hari ini bisa menjadi lompatan besar bagi inovasi Indonesia di masa depan.
(Arul/PorosLombok)















