Paru-Paru Basah dan Sepeda Butut Anak Pak Ihsan

Lombok Timur, PorosLombok.com – M. Ikhsan Sobri, remaja belasan tahun asal Dusun Borok, Desa Borok Toyang, Kecamatan Sakra Barat, Lombok Timur, kini hanya bisa terbaring lemah. Tubuhnya kurus, napasnya sesak, dan hari-harinya diisi dengan rasa sakit yang makin menjadi-jadi.

Diagnosa dokter dari Klinik Agung Keruak menyebut Ikhsan mengidap paru-paru basah akut. Cairan menggenangi paru-paru sebelah kanannya. Penanganan medis menjadi satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawanya.

Namun, pengobatan medis bukan perkara mudah bagi keluarga Ikhsan. Ayahnya, Pak Ihsan, hanyalah buruh tani. Penghasilannya harian dan tidak menentu. Keluarga ini hidup dalam keterbatasan, jauh dari kata cukup.

Sebelumnya, Ikhsan sempat dibawa ke rumah sakit. Namun keterbatasan biaya membuat pengobatan tak bisa dilanjutkan. Tak ada dana untuk membeli obat, membayar rawat inap, apalagi biaya operasi.

Akhirnya, Ikhsan dirawat secara tradisional. Mereka membawanya ke dukun Sasak, pengobatan alternatif yang biasa jadi pilihan masyarakat ketika rumah sakit terasa terlalu jauh dan terlalu mahal.

Pak Ihsan tak punya banyak pilihan. Ia harus memikirkan kebutuhan tiga anak, biaya makan sehari-hari, dan kini juga pengobatan anak sulungnya. Dalam kondisi seperti itu, dukun dianggap lebih terjangkau.

Ikhsan bersama ayahnya dan relawan GLF yang datang membantu penanganan penyakit paru-paru basah yang dideritanya.

Tim Yayasan Generasi Lombok Foundation (GLF) datang beberapa hari lalu. Mereka menemukan Ikhsan dalam kondisi memprihatinkan. GLF kemudian mengambil langkah cepat: membawa Ikhsan ke fasilitas kesehatan.

“Alhamdulillah, pasien paru-paru basah itu sudah ditangani puskesmas. Kita kawal sampai proses operasi, Bang,” tulis Ketua GLF kepada wartawan melalui pesan WhatsApp. selasa (23/04)

Ikhsan dirujuk ke RSUD dr. R. Soedjono Selong. Di rumah sakit itu, ia mulai mendapatkan penanganan serius. Tim medis memutuskan cairan di paru-paru harus segera dikeluarkan melalui tindakan operasi.

Pak Ihsan merasa sedikit lega. Tapi itu belum akhir dari perjuangan. Ia tahu, setelah operasi, masih ada biaya lain yang harus disiapkan. Biaya rawat inap, obat-obatan, hingga pemulihan pascaoperasi.

Dalam obrolannya dengan tim GLF, Pak Ihsan menyebut bahwa keluarganya sempat menjadi penerima bantuan PKH. Namun dua bulan terakhir, bantuan itu tak lagi mereka terima. Tak ada penjelasan.

“Sudah dua bulan ini kami tidak dapat lagi bantuan itu,” ujarnya pelan. Bantuan itu dulunya digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, sedikit dihemat untuk biaya sekolah anak-anaknya.

Kini semua beban menumpuk di pundaknya. Namun, Pak Ihsan enggan menyerah. Ia ingin Ikhsan sembuh, kembali sehat seperti sedia kala. Ia ingin melihat anaknya kembali ceria.

Di sudut rumah, sepeda tua milik Ikhsan masih teronggok. Dulu digunakan untuk ke sekolah, kini menjadi pengingat diam tentang masa kecil yang terhenti karena penyakit.

Pak Ihsan memandangi sepeda itu setiap hari. Dalam hatinya, ada harapan bahwa suatu saat Ikhsan akan kembali mengayuhnya, menyusuri jalan desa sambil tersenyum.

“Yang penting anak saya bisa sembuh dulu,” katanya. “Urusan lain nanti saya pikirkan sambil jalan.”

Di tengah keterbatasan, Pak Ihsan menggantungkan harapan pada niat baik orang-orang. Ia tahu, kadang harapan datang dari tempat yang tak terduga.

GLF telah membuka jalan. Kini tinggal siapa yang sudi membantu mereka menuntaskan ikhtiar—agar Ikhsan bisa kembali mengayuh sepedanya, bukan lagi berbaring menahan sakit.

(arul/porosLombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU