Poroslombok.com | LOTIM –
Wabah Penyakit Mulut dan Kuku ( PMK ) pada hewan ternak sapi di Lombok Timur kian meluas. Di kecamatan Terara dan Montong Gading tercatat total 718 ekor sapi dinyatakan terjangkit PMK.
Hal ini berdasarkan data yang tercatat di UPT Puskeswan dan Peternakan kecamatan Terara – Montong Gading tertanggal (31/05).
KTU UPT Puskeswan dan Peternakan kecamatan Terara – Montong Gading, Muktar, S.Pt, merincikan, di kecamatan Terara suspek PMK sebanyak 314 ekor sapi.
Dari jumlah itu, sebanyak 67 ekor sudah dinyatakan sembuh, 9 ekor di sembelih dan sisanya masih dalam tahap penyembuhan atau pemulihan.
Sementara di kecamatan Montong Gading kasus suspek PMK sebanyak 408 ekor, 167 dinyatakan sembuh, 5 ekor dijual dan sisanya masih dalam tahap pemulihan.
Dijelaskannya, dari 718 ekor sapi yang dinyatakan terjangkit PMK semuanya sudah diberikan obat dan 234 ekor sapi sudah dinyatakan sembuh.
Kendati banyak kasus suspek PMK, akan tetapi sampai saat ini, terang dia, belum ada ditemukan sapi yang dinyatakan mati karena penyakit PMK.
“Tidak ada ditemukan sapi mati karena penyakit PMK di wilayah Terara dan Montong Gading” tegas Muktar saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (31/5).
Selaku petugas di bidang Peternakan, Muktar, mengimbau kepada masyarakat atau peternak agar tidak panik dan resah ketika menemukan sapi ternaknya memiliki ciri-ciri atau gejala terjangkit PMK.
Dirinya menyarankan agar sebaiknya peternak langsung melapor ke Kepala Wilayah atau petugas Peternakan untuk segera ditangani dan diberikan pengobatan.
“Intinya masyarakat jangan panik, karena PMK ini bisa disembuhkan. kami dari petugas siap melayani peternak siang dan malam jika ditemukan gejala PMK pada sapi ternak masyarakat” imbaunya.
Disinggung mengenai rentan waktu penyembuhan setelah di berikan pengobatan terhadap sapi yang terkena PMK, Muktar menjelaskan, bahwa rentan waktu penyembuhan sekitar dua atau tiga minggu baru sembuh total.
Untuk mengantisipasi penularan penyakit PMK pada hewan ternak, UPT Puskeswan Terara-Montong Gading telah melakukan sosialisasi di tingkat desa. Tak hanya itu, penyemprotan cairan disinfektan di kandang peternak juga sudah dilakukan.
“Kita sudah koordinasi dan kerjasama dengan pihak desa dan kecamatan untuk mengantisipasi penularan penyakit PMK ini” tuturnya dia memungkasi.
( Erwin, PL)















