Dengan senyum manisnya, Diana mempersilahkan kami duduk di teras depan rumah sederhananya yang jauh dari keramaian, suasananya yang tenang, udaranya yang sejuk membuat kami betah untuk berlama-lama ditempat tersebut. Selang beberapa menit, ia menyuguhkan kami kopi dan gula hasil karyanya bersama masyarakat setempat yang berbahan dasar air nira, kamipun mencobanya ternyata rasanya sangat enak, aromanya yang khas Nira menjadi daya tarik dari kopi dan gula ini.
Dalam obrolan kami Diana bercerita tentang masa-masa sulitnya berjuang menantang kerasnya zaman, karena diusianya yang masih tergolong remaja, orang tuanya yang laki-laki wafat, sehingga ia terpaksa harus menjadi tulang punggung keluarga. “Saya dulu dari semester 4 sudah mulai usaha, untuk menghidupi ibu dan ade saya yang masih kecil” ucapnya sambil menunjukan beberapa produk unggulannya.
Diana kuliah di Universitas Negeri Mataram (UNRAM), dengan mengambil fakultas pertanian jurusan pertanahan, Diana merupakan anak pertama dari dua bersaudara, masa-masa indahnya sebagai seorang remaja tak ia dapatkan seperti anak-anak seumurannya, karena ia hanya fokus berusaha mencari uang, untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, terutama adiknya yang masih berumur 7 tahun.
Tanpa malu ia memulai usahanya dengan berjualan sosis bakar di otak kokok joben, yang merupakan salah satu wilayah Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) sampai saat ini, namun Omzet dari Usaha ini memang tidak terlalu banyak hanya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari bersama keluarganya, sehingga ia harus memutar otak untuk membangun usaha yang lain.

















