Ditengah keterbatasannya, namun Diana mempunyai jiwa sosial yang tinggi, sehingga ia tetap melihat orang-orang sekelilingnya terutama para petani nira, yang selalu mendapatkan harga di bawah standar, tak sesuai dengan proses pengambilan air nira ini, sehingga ia merasa perihatin kepada para petani nira. di akhir tahun 2020 ia mencoba mengembangkan usaha olahan produk air nira berbentuk kemasan, seperti gula semut, gula batu, dan lain-lain.
Awal merintis usaha olahan nira ini, memang tak segampang yang dibayangkan, bukan hanya modal saja akan tetapi mental juga harus ia siapkan, karena setelah produk-produk ini jadi ia harus memasarkannya, Panasnya jalan aspal, Polusi udara,Hujan panas tak membuatnya patah arang, dari supermarket hingga kantor birokrasi tak luput dari target pasarnya.
Setelah 1 tahun berlalu kini usahanya mulai berkembang dan produk-produknya sudah mulai dikenal. “Alhamdulillah ternyata usaha itu intinya sungguh-sungguh dan berani mengambil resiko, dan jangan takut rugi, ternyata kuncinya” kata Diana sembari tersenyum kepada kami.
Obrolan kamipun terputus, karena jam sudah menunjukkan pukul 01.00 wita, dan Diana Izin masuk sebentar ke dalam rumahnya, selang beberapa menit Diana keluar membawa hidangan nasi dan lauk pauk untuk makan siang kami “silahkan dimakan namun seadanya,”ucapnya sambil merapikan beberapa gelas yang ada di atas meja bekas kopi.

















