PorosLombok.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari pusat mulai menggerakkan roda ekonomi pelaku UMKM jasa sablon di Kabupaten Lombok Timur yang kini kebanjiran pesanan kemasan ramah lingkungan sejak awal pekan ini.
Owner AGY Creative Printing, Chunk menyatakan bahwa banyak dapur penyedia makanan kini mulai patuh pada aturan Perda daerah dengan beralih dari penggunaan plastik ke tas goodie bag.
Transisi penggunaan kemasan ini nyatanya tidak berjalan mulus lantaran ketersediaan stok tas kain di pasar lokal sangat menipis sehingga menghambat proses produksi massal bagi para perajin sablon di wilayah tersebut.
”Pemerintah daerah sendiri sebenarnya belum mampu menjalankan regulasi pembatasan plastik secara konsisten karena pasokan pengganti di pasar lokal masih sangat langka,” ujar Chunk.Senin (16/03/2026).
Kesenjangan antara aturan ketat dan realitas lapangan memicu keresahan bagi pemilik jasa percetakan yang harus memutar otak agar tetap bisa melayani pesanan para pengelola dapur program makan bergizi.
”Kami sangat berharap pihak eksekutif segera membangun fasilitas berbagi kemasan maupun gudang stok agar kebutuhan industri kreatif lokal tetap terpenuhi,” jelasnya.
Pemanfaatan gedung pusat layanan usaha dianggap solusi jitu untuk menghidupkan ekosistem bisnis lokal agar perputaran uang tetap berada di dalam kabupaten tanpa lari ke daerah tetangga.
”Situasi ini adalah peluang emas untuk mengaktifkan kembali gedung PLUT Lombok Timur yang selama ini hanya menjadi bangunan megah namun masih kosong pekerjaan,” katanya.
Akibat kelangkaan stok lokal, para pelaku jasa sablon kini terpaksa mendatangkan bahan baku dari luar daerah dengan biaya transportasi lebih tinggi demi mengejar target penyelesaian pesanan.
”Langkah impor barang terpaksa kami ambil karena sangat khawatir akan terjadi keterlambatan pengiriman yang bisa merusak kepercayaan konsumen terhadap vendor,” ujarnya.
Masalah logistik ini berdampak sistemik hingga memaksa sejumlah bengkel sablon menolak banyak orderan baru dari dapur penyedia makanan lain karena keterbatasan bahan baku di gudang.
”Sangat disayangkan jika potensi ekonomi yang begitu besar ini harus hilang sia-sia hanya karena fasilitas produksi di daerah sendiri belum berfungsi maksimal,” pungkasnya.*














