(PorosLombok.com) – Langit tampak mendung siang itu, Jarum jam menunjukkan pukul 12.10 Wita. Dari kejauhan, tampak sekelompok ibu rumah tangga di Desa Masbagik Selatan, Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, sibuk mengolah adonan kue.
Tangan-tangan cekatan itu membentuk berbagai jenis kue Bavia, camilan ringan yang dikemas dengan beragam merek lokal.
Tak lama kemudian, dari balik sebuah rumah sederhana, seorang perempuan paruh baya keluar menyambut ramah.
Dia adalah Artinah (56), seorang aparatur sipil negara (ASN) di bagian gizi yang bertugas di salah satu fasilitas kesehatan di Lombok Timur. Meski berasal dari Jawa, ia telah menetap di Lombok Timur sejak pertama kali ditugaskan sebagai PNS.
Berawal dari keprihatinannya terhadap ibu-ibu rumah tangga di lingkungan tempat tinggalnya, Artinah memutuskan menjadikan hobinya membuat kue sebagai jalan untuk membangun usaha bersama.
Ia membentuk kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis rumahan. Usaha itu tak hanya tumbuh, tapi juga memberi dampak nyata. Produk-produk olahan mereka kini laris di pasaran.
“Alhamdulillah, kelompok usaha kue rumahan yang kita bentuk bisa membuka lapangan pekerjaan untuk ibu-ibu sekitar,” ucap Artinah saat ditemui PorosLombok, Selasa (12/07).
Namun, perjalanan usaha itu bukan tanpa tantangan. Artinah harus berjibaku dengan keterbatasan modal dan pemasaran. Semua dimulai dari nol, hingga akhirnya perhatian pemerintah daerah—khususnya Dinas Perindustrian—turut membantu membuka jalan.
“Diberbagai event kami selalu dilibatkan oleh Dinas Perindustrian. Di sana kami bisa memamerkan berbagai produk kami,” kata Artinah, sembari menyuguhkan kue Bavia buatannya.
Suara mixer adonan yang bergemuruh terdengar di sudut dapur. Di sela tawa riang para ibu yang sibuk bekerja, Artinah tersenyum. Raut wajahnya memancarkan rasa bahagia.
Bagi Artinah, kesibukan yang menghidupkan suasana rumah itu adalah bukti bahwa mimpinya pelan-pelan menjadi nyata. Ia ingin ibu-ibu di sekitarnya tak lagi sekadar menjadi penonton di sudut jalan.
“Karena biasanya kalau di komplek kita dengar orang bergosip di sudut-sudut jalan, kini pemandangan berganti dengan kesibukan para ibu-ibu bekerja untuk menghasilkan rupiah,” ujarnya.
Ada rasa puas dalam nada suaranya. Di usia yang menginjak kepala enam, ia berhasil memberi ruang bagi ibu-ibu untuk terus produktif, tanpa harus meninggalkan rumah dan keluarga.
Usaha rumahan itu pun mendapat tempat dalam berbagai event besar. Salah satunya dalam ajang lari lintas alam Rinjani 100, di mana produk Artinah menjadi salah satu favorit pengunjung.
Dalam acara itu, ia mampu meraup keuntungan hingga ratusan ribu rupiah per hari. Tak jarang, Artinah kewalahan menerima pesanan. Namun, semua itu ia syukuri sebagai berkah.
Baginya, setiap event adalah peluang. Peluang untuk memperluas jaringan, dan mengenalkan produk lokal buatan tangan ibu-ibu Masbagik ke pasar yang lebih luas.
(arul/PorosLombok)
















