Memanjat Langit Desa Pajangan, Kisah Sudirman Menjemput Berkah di Pucuk Kelapa

Sudirman, pemanjat kelapa Desa Pajangan dengan alat panjat inovatif buatan sendiri, taklukkan puluhan pohon demi rezeki di momen suci ini, membuktikan keahlian dan kearifan lokal.

PorosLombok.com – Angin kencang menyapu pelepah hijau di cakrawala Desa Pajangan saat aroma tanah basah dan desau rimbun kebun kelapa menyambut datangnya bulan suci ramadan yang penuh dengan keberkahan pada Minggu, (08/03/2026).

​Sudirman menyeka peluh di dahi, menatap deretan batang menjulang tinggi yang menjadi tumpuan hidupnya selama tiga dekade terakhir sebagai penjaga tradisi memanjat pohon kelapa di pelosok Lombok Tengah yang masih sangat asri dan terjaga dengan baik hingga saat ini.

​”Kalau masa-masa seperti ini dengan hari biasa jauh sekali bedanya, permintaan kelapa muda sedang tinggi-tingginya,” ucapnya sambil menyandarkan badan di batang pohon yang tampak kokoh.

​Lelaki paruh baya ini merupakan saksi hidup bagaimana bentang alam pedesaan memberikan kemakmuran bagi mereka yang berani bersahabat dengan ketinggian demi memenuhi kebutuhan pasar yang terus melonjak tajam seiring dengan datangnya ritual tahunan masyarakat lokal.

​Ia menjelaskan bahwa pada hari-hari sebelumnya, permintaan pasar lebih didominasi oleh kelapa kering untuk kebutuhan bumbu dapur warga setempat yang mengandalkan hasil perkebunan rakyat sebagai sumber utama bahan pangan alami mereka sehari-hari tanpa henti.

​”Sekarang fokusnya berubah total, semua orang mencari yang muda untuk kesegaran saat berbuka,” tuturnya sembari mempersiapkan tali pengaman buatan sendiri yang ia lilitkan di pinggang.

Sudirman, pemanjat kelapa Desa Pajangan, Kopang, menunjukkan alat bantu panjat kaki inovatif berbahan besi baja yang dirakitnya sendiri. (dok: istimewa / PorosLombok.com)

​Perubahan pola konsumsi masyarakat ini memaksa otot-otot Sudirman bekerja ekstra keras, mendaki puluhan batang pohon setiap hari tanpa kenal lelah demi menjamin ketersediaan stok di tingkat pengepul yang harus dikirimkan ke berbagai wilayah pasar tradisional lainnya.

​”Kadang dalam satu hari saya harus memanjat sampai lima puluh pohon untuk memenuhi target,” ungkapnya dengan napas yang masih menderu usai turun dari ketinggian tajuk pohon kelapa hijau.

​Dari sisi finansial, jasa keringat Sudirman dihargai sebesar lima belas ribu rupiah untuk setiap batang pohon yang berhasil ia taklukkan hingga ke pucuk tertinggi di tengah hamparan kebun hijau yang luas dan menyegarkan mata bagi siapa saja yang melihatnya dari jauh.

​Intensitas kerja yang meninggi di saat warga menjalankan ibadah ini mampu memberikan tambahan penghasilan harian hingga ratusan ribu rupiah bagi ekonomi keluarganya yang selama ini sangat bergantung sepenuhnya pada kebaikan alam dan siklus musim yang terus berganti.

​”Alhamdulillah, upah memanjat ini sangat lumayan dan lebih dari cukup untuk belanja kebutuhan anak-anak,” katanya dengan senyum yang mengembang tulus di bawah terik matahari yang menyengat.

​Pendapatan tersebut jauh melampaui upah buruh harian pada umumnya di desa yang biasanya hanya menyentuh angka seratus ribu rupiah untuk kerja kasar seharian di ladang atau proyek bangunan yang menguras banyak tenaga namun dengan hasil yang tidak seberapa dibanding risikonya.

​Rutinitas berat ini ia mulai sejak pagi hari saat embun masih menempel di dedaunan rimbun, dan baru akan berakhir sesaat sebelum kumandang azan magrib terdengar bergema dari surau-surau desa yang menandakan waktu bagi para petani untuk segera pulang ke rumah masing-masing.

​Langkah kakinya kerap berpindah lokasi mengikuti arahan pengepul, bahkan tak jarang ia harus menempuh perjalanan jauh melintasi batas kabupaten demi mengumpulkan butiran rezeki di atas pohon kelapa yang tersebar di wilayah pesisir hingga perbukitan yang cukup terjal.

​”Wilayah kerja saya luas, pernah sampai ke pesisir timur demi menjemput rezeki di atas pohon,” jelasnya sambil merapikan peralatan panjat yang kini ia modifikasi sendiri agar lebih aman.

​Meski telah terbiasa menari di ketinggian puluhan meter, risiko pekerjaan seperti embusan angin kencang yang tiba-tiba datang dari arah laut tetap menjadi ancaman yang nyata bagi keselamatan nyawanya saat berada di angkasa tanpa adanya perlengkapan pelindung yang canggih.

​Selain faktor cuaca, ancaman dari penghuni tajuk pohon seperti koloni tawon hutan seringkali menjadi tantangan yang harus ia hadapi dengan penuh perhitungan matang agar tidak berujung petaka yang bisa merugikan kesehatan fisiknya dalam waktu yang cukup lama di lapangan.

​”Sering sekali saya bertemu sarang tawon di atas, kalau tidak hati-hati bisa disengat serangga,” paparnya sambil menunjukkan bekas luka di lengan yang sudah mengeras akibat sengatan masa lalu.

​Untuk mengatasi gangguan serangga tersebut, ia biasanya menggunakan teknik pengasapan tradisional agar proses pemanenan buah tetap berjalan aman tanpa merusak ekosistem penghuni pohon lainnya yang juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam sekitar.

​Rasa takut seolah telah sirna dari benaknya karena keahlian memanjat ini telah ia pupuk sejak usia belia di bawah rimbunnya kebun kelapa milik orang tuanya yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari jati diri sebagai masyarakat agraris yang tangguh.

​”Kita berjalan dari rumah kan memang niatnya untuk cari nafkah buat mereka, bukan sekadar untuk diri sendiri saja,” pungkasnya sambil menatap lurus ke arah pemukiman tempat keluarga tercinta menunggu.*

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU