Tokoh tersebut berharap keberhasilan model inklusivitas di Lombok Timur ini menjadi rujukan utama bagi unit serupa di seluruh penjuru tanah air. Menurutnya, kesetaraan akses pekerjaan bagi kaum rentan memegang kunci utama dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.
”Nur Paridah telah membuktikan bahwa di balik kekurangan raga terdapat kekuatan besar yang mampu menggerakkan roda perubahan sosial,” jelas Daeng Palori.
Kini, di antara denting logam yang saling beradu, perempuan tangguh itu tidak sekadar membersihkan wadah makanan yang kotor. Ia sebenarnya sedang membasuh segala bentuk keputusasaan yang sempat menghantui masa depan keluarganya akibat jeratan kesulitan ekonomi masa lalu.
Martabat di Balik Keteguhan Hati
Setiap tetes air yang jatuh dari jemarinya menjadi saksi bisu bahwa martabat seorang manusia tidak bersumber dari kesempurnaan langkah kaki. Sebaliknya, nilai sejati seseorang terpancar dari keteguhan hati untuk terus berbakti dan memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.
Nur menutup percakapan dengan senyum kecil sembari kembali menata tumpukan wadah bersih yang siap untuk distribusi makan siang esok hari. Baginya, dapur inklusif ini bukan hanya tempat mencari nafkah, melainkan panggung pembuktian bahwa dirinya masih sangat berarti bagi dunia.
(PorosLombok.com)















