Nur Paridah, Inklusivitas Dapur MBG, Tulang Punggung Keluarga

Di tengah keterbatasan fisik yang menghimpit, jemari kaku Nur Paridah terus membasuh wadah logam dengan cinta—sebuah perjuangan sunyi seorang ibu demi memastikan asap dapur rumahnya tetap mengepul dan mimpi anak-anaknya tak terhenti.

Lombok Timur,Poros Lombok – Aroma bumbu dapur yang tajam menyeruak di antara uap panas yang membubung dari sudut Kecamatan Labuhan Haji, Lombok Timur, pada Kamis pagi, 12 Februari 2026.

Di tengah kesibukan yang padat, seorang perempuan bernama Nur Paridah Hidayah tampak tekun menggosok wadah-wadah logam hingga mengilap.

​”Program ini sangat membantu saya dalam membiayai kebutuhan sekolah serta keseharian anak di rumah,” ungkap ibu berusia 39 tahun tersebut dengan raut wajah penuh syukur.

​Keterlibatan Nur dalam fasilitas penyedia asupan nutrisi pelajar ini membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk tetap produktif. Meskipun ia mengandalkan alat penyangga kaki untuk berpindah tempat, semangatnya tidak pernah luntur demi memastikan ratusan siswa mendapatkan pelayanan konsumsi yang higienis.

​Ia menjelaskan bahwa sistem kerja di tempat tersebut memudahkan setiap personel mengambil peran yang sesuai dengan kapasitas masing-masing. Fleksibilitas ini membuat para pekerja dengan kebutuhan khusus tetap bisa berkontribusi maksimal tanpa merasakan beban fisik yang berlebihan.

​Sebelum menemukan tempat di ekosistem ini, Nur menyambung hidup dengan cara menjajakan sate secara berkeliling di sekitar desa tempat tinggalnya. Tantangan mobilitas yang berat di medan jalanan seringkali menyulitkan dirinya untuk berjualan secara konsisten guna mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga.

​”Awalnya saya sempat merasa ragu apakah mampu mengejar ritme kerja yang sangat cepat di lokasi ini,” aku Nur mengenang kekhawatirannya.

​Ketakutan itu sirna saat manajemen pengelola merancang tata letak peralatan ergonomis agar tangan penyandang disabilitas mudah menjangkaunya. Inovasi penempatan alat dapur tersebut bertujuan meminimalkan pergerakan fisik berlebihan namun tetap menjaga standar output pekerjaan yang sangat tinggi.

​Nur menuturkan bahwa lingkungan kerja terasa sangat suportif karena rekan-rekan sejawat selalu memberikan bantuan tulus tanpa memandang rendah kondisi fisiknya. Atmosfer positif ini menciptakan kenyamanan batin yang mendorong efisiensi kerja di lapangan menjadi semakin optimal dari waktu ke waktu.

​Membasuh Harapan di Balik Ompreng

​Koordinasi tim yang solid memungkinkan para pekerja difabel menunjukkan tingkat ketelitian luar biasa, terutama saat menjaga kebersihan alat makan para siswa. Ketulusan mereka bekerja bukan sekadar soal upah, melainkan tentang dedikasi untuk kesehatan generasi penerus bangsa di wilayah Nusa Tenggara Barat.

​”Setiap menyentuh ompreng, saya membayangkan kebahagiaan anak-anak yang akan menyantap hidangan sehat demi masa depan mereka,” terangnya sambil terus membilas sisa sabun.

​Ketua Dewan Pembina Himpunan Mitra Dapur (DPHMD) Generasi Emas, Daeng Palori, menegaskan pentingnya meniadakan segala bentuk diskriminasi status sosial dalam proses rekrutmen. Ia berkomitmen untuk terus membuka pintu bagi siapapun yang memiliki kemauan kuat untuk mengabdi pada program nasional ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERBARU