NWDI Tidak Boleh Melakukan ‘Indoktrinasi’, Atas Nama Kesetiaan

Poroslombok.com, LOTIM –

Ketua Umum PB NWDI TGB TGKH Muhammad Zainul Majdi menegaskan bahwa kader NWDI bukan hanya orang yang pernah sekolah di Madrasah NWDI, akan tetapi, siapa saja yang mempunyai pemikiran yang sama dalam perjuangan NWDI

“Karena Keislaman dan ke Indonesian dua sisi yang sama-sama tidak bisa dipisahkan, harus berada di satu tarikan nafas,” ungkap TGB saat Pidato di pembukaan Rakernas Kemarin. Sabtu (17/09).

Ia mengatakan bahwa kader NWDI juga orang-orang yang selalu menjalankan dasar-dasar yang sudah diberikan oleh Almaghfurlah Maulana Syeikh, dimanapun dia sekolah, dan dimanapun dia tinggal, bahkan apapun latar belakang profesinya selama dia masih mempunyai keyakinan dari nilai-nilai itu maka dia adalah bagian dari NWDI.

“Karena itu kita menunggu dan kita dorong kader-kader NWDI, dimanapun untuk melengkapi diri dengan struktur organisasi, sehingga perwakilan NWDI tidak hanya di mesir, Yaman, tapi juga di negara-negara lain seperti di Eropa, Amerika, Australia dimanapun,” harapnya.

Saat ini ungkap TGB, Organisasi NWDI sudah ada di beberapa Negara maka dari itu ia berharap sumber daya NWDI harus bisa terorganisir dengan baik, dengan cara tidak melakukan indoktrinasi dan tidak mematikan akal para kader muda atas nama kesetiaan.

“Tidak boleh kita begitu karena generasi muda yang baru ini, mereka punya hak dan islam juga menjamin hak itu, agar hati mereka, jiwa mereka, dan akal mereka semuanya hidup dan semua memiliki ruang untuk berkembang,” ujarnya.

Lebih lanjut TGB Menerangkan ada beberapa istilah yang dibawa oleh Almaghfurlah Maulana Syeikh, yang harus difahami yaitu Istilah, “Samiqna Wa Atoq’na” itu bukan berarti memarkir akal dari kader NWDI akan tetapi istilah itu adalah wujud dari komitmen kebersamaan untuk bersama-sama berjuang, bukan berarti tidak boleh ada suara yang berbeda dan bukan berarti tidak boleh ada yang mengusulkan sesuatu ide yang lebih baik, dibanding apa yang sudah ada.

“Kita harus ingat berorganisasi itu bagian dari ber-muammalah dalam islam, sehingga ruangnya itu adalah “murunah” yakni elastisitas, prinsip tetap sama tapi elastis sehingga dapat ditarik seluas mungkin,” ungkapnya.

Sehingga kemaslahatan dalam berorganisasi itu adalah bagaimana membentangkan ruang itu seluas mungkin, supaya semakin banyak anak bangsa yang berada barisan NWDI. Sehingga tidak boleh ruang itu diperkecil, apalagi dibikin jadi sebuah tempurung.

“Ketika ada suara sebenarnya bukan suara orang akan tetapi suara kita, dan kita menganggap diri kita besar padahal, itu pantulan dari suara kita, yang orang lain tidak mendengarnya, hanya kita mendengar diri sendiri dan merasa puas dengan itu,” ucapnya.

Maka dari itu TGB mengajak para kader NWDI itu untuk berpikir makna dari Fil Alamin, harus diikhtiarkan, jangan sampai organisasi NWDI hanya berputar di NTB saja , sehingga ia mengibaratkan didalam sebuah kolam yang ikannya semakin banyak namun kolam tersebut begitu-begitu saja. Sehingga ikan yang berteman jadi bermusuhan.

“Lama-lama “batur jeri musuh wah dek narak lalok kene gawek” ( teman akan menjadi musuh sudah tidak ada lagi yang akan dikerjakan),” ucap TGB mengibaratkan.

Terakhir TGB Mengajak untuk membuka ruang-ruang berkhidmat dan berjuang keluar dengan tetap mempertahankan nilai perjuangan-perjuangan Maulanasyeikh,  serta apa yang sudah ditanamkan olehnya, sehingga kader NWDI hari ini bertugas bukan menyebut kehebatan Almaghfurlah, yang paling penting mewarisi dan memperluas dakwahnya.

“Jangan sampai kita mewarisi NWDI masih dalam skala seperti ini saja dan generasi NWDI masih seperti ini juga itu namanya kita zolim kepada Almaghfurlah, kalau kita cinta pada bliau mari perjuangannya kita perluas,” pungkas TGB.

(Arul/ Poroslombok)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Bank NTb

TERBARU