PorosLombok.com – Sebagian besar wilayah Kecamatan Suela di Kabupaten Lombok Timur kini menghadapi tantangan berat akibat dominasi lahan kering yang mencapai 70 persen. Speaker Kampung bersama jurnalis warga mulai menggencarkan kampanye ekonomi hijau melalui sistem irigasi tetes pada Rabu (25/3/2026).
Direktur Yayasan Speaker Kampung Hajad Guna Roasmadi menegaskan bahwa petani Lombok Timur tidak boleh terus-menerus bergantung pada siklus musim hujan yang tidak menentu. Inovasi teknologi tepat guna menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas produksi pangan di wilayah gersang tersebut.
”Irigasi tetes adalah jawaban konkret karena mampu menghemat air, meningkatkan produktivitas, sekaligus menjaga ekosistem tanah kita,” katanya.
Pria yang akrab disapa Eros ini menjelaskan bahwa sistem tersebut bekerja dengan menyalurkan air langsung ke akar tanaman melalui selang berlubang. Teknis tersebut terbukti efektif memangkas konsumsi air hingga lebih dari 50 persen dibanding cara penyiraman konvensional.
Eros mengaku telah menghabiskan waktu selama dua tahun untuk melakukan riset mendalam mengenai solusi pertanian di lahan yang biasanya terbengkalai saat musim panas. Ia menemukan bahwa efisiensi air melalui penampungan mandiri adalah jalan keluar bagi para petani lokal.
”Idealnya dalam satu hektar lahan tersedia lima are kolam penampungan untuk menjamin ketersediaan air irigasi selama musim kemarau,” jelasnya.
Speaker Kampung kini berperan aktif sebagai jembatan aspirasi agar teknologi ini diadopsi secara massal oleh masyarakat dan mendapat dukungan penuh pemerintah. Langkah ini diharapkan mampu mengubah paradigma lama menuju sistem pertanian yang lebih modern dan adaptif.
Kabid Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Lombok Timur Zukiadi menyatakan apresiasi tinggi terhadap gerakan edukasi proaktif yang diinisiasi warga. Pemerintah daerah disebutnya tengah menyiapkan program pendampingan khusus bagi desa berpotensi lahan kering.
”Langkah ini sejalan dengan visi kabupaten dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim,” ujarnya.
Zukiadi menambahkan bahwa persoalan infrastruktur irigasi secara teknis merupakan domain Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP). Pihaknya berkomitmen segera mengoordinasikan temuan lapangan ini kepada pimpinan tertinggi untuk ditindaklanjuti menjadi kebijakan strategis.
”Nanti segera saya sampaikan dan laporkan kepada Bapak Kadis Pertanian mengenai detail serta urgensi program ekonomi hijau ini,” jelasnya.
Kampanye ekonomi hijau di Kecamatan Suela diharapkan dapat memperluas indeks pertanaman tanpa merusak kelestarian lingkungan sekitar. Keberhasilan sistem irigasi tetes akan menjadi tolok ukur baru bagi kemandirian petani di lahan marginal wilayah Lombok Timur ke depannya.
”Semoga kolaborasi antara relawan dan dinas terkait ini mampu mendongkrak kesejahteraan petani tanpa harus menunggu hujan turun,” pungkasnya.*














