PorosLombok — Angin kencang menyapu permukaan laut di Tanjung Beloam, mengirimkan buih putih yang menghantam tebing karang yang kokoh namun sunyi. Di kejauhan, perahu nelayan tampak terombang-ambing di air biru toska pada Selasa, (24/03/2026).
Naufal, seorang guru yang sehari-hari mengabdikan dirinya di SDN 2 Sekaroh, kini menjadi pusat perhatian dari setiap mata yang memandang ke arah laut lepas. Lelaki itu tak lagi tampak di depan kelas, melainkan namanya dipanggil oleh deburan ombak.
Sejak fajar menyingsing, suasana di sepanjang garis pantai hingga Pantai Pink terasa sangat mencekam sekaligus penuh harapan yang menyesakkan dada. Para relawan berkumpul, menatap hamparan air yang berkilauan namun terasa begitu dingin dan asing.
Tim pencari mulai membelah ombak dengan perahu motor, menyisir setiap sudut karang yang mungkin menjadi tempat bernaung sang guru di tengah amuk alam. Mesin perahu menderu, memecah kesunyian pagi yang biasanya hanya diisi oleh suara burung laut.
Darwis, sosok yang memimpin koordinasi di lapangan dari Pos Kayangan, terus memantau setiap pergerakan tim yang berjuang melawan arus bawah laut yang kuat. Wajahnya tampak tegang, mencerminkan beban berat demi membawa pulang raga yang dirindukan.
”Update sampai dengan siang ini, tadi teman-teman Tim Sar gabungan juga sudah melakukan pencarian mulai turun dari Pantai Pink, sempat melakukan pencarian dari laut dari arah Pantai Pink sampai dengan lokasi kejadian,” jelasnya, Rabu (26/03/2026).
Upaya penyisiran lewat jalur air ini melibatkan berbagai pihak yang memiliki pemahaman mendalam tentang karakter laut di selatan pulau. Keanekaragaman hayati bawah laut yang indah seolah tertutup kabut duka bagi mereka yang sedang bertugas di sana.
Kearifan lokal para nelayan setempat menjadi kunci dalam memahami ke mana arus membawa benda yang hanyut di perairan yang kaya akan terumbu karang ini. Pengetahuan tradisional tentang pasang surut sangat diandalkan ketika teknologi mulai buntu.
Setelah mendengarkan dengan saksama kesaksian dari mereka yang berhasil selamat dari maut, tim pencari mulai merumuskan strategi baru yang lebih berisiko. Titik koordinat jatuhnya korban menjadi fokus utama di mana kedalaman laut menyimpan tekanan.
”Setelah kita mendengar lagi dari kesaksian korban yang selamat, untuk posisinya mungkin siang ini, kita akan melakukan penyelaman tradisional,” ungkapnya dengan nada suara yang berat, menyiratkan keberanian sekaligus kecemasan yang sangat mendalam.
Menembus Arus Bawah Laut
Penyelaman tradisional ini dipilih karena para penyelam lokal memiliki kemampuan alami untuk bergerak di sela ekosistem tanpa merusak tatanan karang. Mereka menyelam tanpa peralatan canggih, hanya mengandalkan napas demi sebuah misi kemanusiaan.

Di pinggir pantai, Luqyana, salah satu saksi hidup yang berhasil lolos dari cengkeraman arus, tampak terduduk lemas dengan pandangan mata kosong. Kenangan pahit saat berjuang melawan maut bersama saudaranya terus berputar seiring suara debur ombak.
Kejadian itu berlangsung begitu cepat, di mana kekuatan alam menunjukkan sisi garangnya yang tak tertandingi oleh raga manusia yang fana. Dalam kepungan air yang mengepung dari segala arah, sebuah percakapan terakhir terukir sebagai pengorbanan.
”Dalam keadaan berpelukan kakak saya bilang selamatkan dirimu dulu dek, kakak sudah tidak kuat,” ungkap Luqyana dengan suara bergetar dan air mata yang mengalir di pipinya saat menjelaskan lokasi tepatnya tempat mereka terpisah kepada tim penyelamat.
Kata-kata terakhir itu menjadi warisan keberanian seorang guru yang bahkan di titik terlemahnya masih memikirkan keselamatan orang lain. Semangat pengabdian yang biasa ia tunjukkan di ruang kelas kini bertransformasi menjadi cerita kepahlawanan.
Hingga matahari mulai condong ke barat, tim penyelamat belum juga mendapatkan tanda-tanda keberadaan sang guru di balik rimbunnya ekosistem bawah laut. Tantangan alam berupa arus bawah yang tidak menentu menjadi kendala utama bagi para penyelam.
Masyarakat sekitar terus memberikan dukungan moral, menyediakan makanan dan doa bagi para petugas yang bertaruh nyawa di tengah ganasnya perairan. Hubungan harmonis antara manusia dan laut diuji dalam momen genting yang penuh dengan rasa haru ini.
Keberadaan SDN 2 Sekaroh kini terasa sepi tanpa kehadiran sosok yang dikenal ramah dalam mendidik tunas bangsa di wilayah pesisir tersebut. Kolega dan muridnya hanya bisa berharap ada keajaiban yang membawa kabar baik dari balik cakrawala luas.
Konservasi lingkungan dan keselamatan manusia adalah dua hal yang bertautan erat di wilayah yang menjadi destinasi wisata ini. Tragedi ini menjadi pengingat betapa kecilnya manusia di hadapan kekuatan ekosistem yang seharusnya dijaga penuh hormat.
Pencarian pun terus dilanjutkan tanpa kenal lelah, menyisir garis pantai hingga batas terjauh yang mampu dijangkau oleh mata. Semua pihak tetap bersiaga, menunggu kepastian dari laut yang masih menyimpan rahasia langit.*















