PorosLombok.com – Bupati Lombok Timur H. Haerul Warisin secara terbuka meminta para jurnalis untuk tidak segan-segan “menelanjangi” melalui pemberitaan jika menemukan adanya kebobrokan dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di lapangan.
Pernyataan berani tersebut disampaikan pimpinan daerah yang akrab disapa Haji Iron ini dalam agenda buka puasa bersama puluhan awak media di Pendopo Bupati pada Kamis (12/3/2026).
“Dari 1.500 omprengan MBG itu, kalau ada satu biji buah saja yang busuk, maka itu merusak 1.499 paket lainnya. Di sinilah pentingnya informasi dan kritik dari wartawan agar pengelola tidak sembarangan,” tegas H. Haerul Warisin.
Bupati mengakui bahwa fungsi kontrol media adalah instrumen penyelamat agar program prioritas ini berjalan sesuai standar. Ia menegaskan bahwa setiap temuan penyimpangan pada paket makanan harus segera diungkap ke publik demi kebaikan masyarakat.
“Tadinya saya sempat mau membela pengelola MBG, namun saya sadar bahwa laporan jurnalis itu benar. Fakta kerusakan tersebut memang harus diungkap demi perbaikan gizi anak-anak kita di Lombok Timur,” katanya secara jujur.
Haji Iron juga mengingatkan agar para jurnalis tidak perlu merasa sungkan atau memberikan laporan yang manis-manis hanya karena memiliki hubungan personal yang dekat dengan dirinya.
“Sampaikan pemberitaan apa adanya kepada rakyat. Jangan pernah membela barang jelek menjadi baik karena itu tindakan naif. Kalau memang isi paketnya buruk, katakan buruk agar pemerintah bisa segera melakukan evaluasi total,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga mengklarifikasi isu keterlibatan Yayasan HW Peduli. Ia menjelaskan bahwa yayasan tersebut awalnya murni bergerak di misi kemanusiaan seperti ambulans gratis tanpa menggunakan dana APBD.
“Begitu HW Peduli diberi izin menjadi jembatan program MBG, ternyata muncul masalah teknis di lapangan. Padahal kami tidak kenal siapa pelaksana teknisnya, dan yayasan ini tidak menyentuh uang negara sedikit pun,” ungkap Haji Iron.
Ia menegaskan kembali bahwa integritas pengelola dapur dan penyedia bahan pangan harus diawasi ketat oleh semua pihak, terutama media massa.
“Sebaik apa pun hubungan Anda dengan saya, ketika pengelola MBG ini keliru atau nakal di lapangan, segera kritik dengan keras. Jangan biarkan pelayanan gizi anak-anak kita dirugikan oleh kerja yang tidak becus,” pungkasnya.*















