PorosLombok.com — Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Mataram menggelar kuliah pakar untuk membedah tantangan informasi di era digital. Agenda ini berlangsung di Aula Fakultas Agama Islam pada Kamis (12/3/2026).
Pihak kampus menghadirkan Prof. Dr. TGH. Fahrurrozi bersama Dr. H. Ahsanul Khalik sebagai pembicara utama dalam forum bertajuk Lentera Ramadan tersebut. Kehadiran mereka bertujuan memperkuat landasan moral mahasiswa dalam mengelola media sosial.
“Perkembangan media digital membuka peluang besar bagi dakwah Islam untuk menjangkau generasi muda secara luas,” ujarnya.
Pakar komunikasi dakwah Prof. Fahrurrozi menilai transformasi teknologi telah menggeser pola penyebaran pesan agama dari mimbar fisik menuju platform virtual. Perubahan metode ini menuntut para dai untuk lebih adaptif terhadap perangkat komunikasi modern.
Ia mengingatkan bahwa setiap konten keagamaan yang diproduksi wajib mengedepankan nilai kebijakan agar tidak menimbulkan perdebatan negatif di ruang publik. Dakwah masa kini harus mampu menyelaraskan antara tren kekinian dengan pakem etika keislaman.
“Namun pesan dakwah tetap harus disampaikan dengan pendekatan yang bijak serta memperhatikan etika komunikasi,” jelasnya.
Literasi media dipandang sebagai kecakapan mutlak bagi para komunikator agar konten yang dihasilkan tidak sekadar mengejar angka viralitas. Fokus utama dalam setiap sebaran informasi di dunia maya adalah kebermanfaatan dan kemaslahatan umat manusia.
Sementara itu, Kepala Dinas Kominfotik NTB Ahsanul Khalik menyoroti fenomena ledakan data yang membuat batas antara fakta dan opini semakin kabur. Kondisi tersebut memaksa setiap pengguna gawai untuk bertindak sebagai editor bagi diri sendiri.
“Kecepatan informasi di era teknologi saat ini harus tetap diimbangi dengan kualitas serta tanggung jawab moral,” katanya.
Pria yang akrab disapa Aka ini menyebut kemudahan produksi konten digital membawa risiko besar berupa manipulasi opini serta polarisasi di tengah masyarakat. Tanpa filter yang kuat, arus hoaks bisa merusak tatanan sosial yang sudah terjaga.
Pemerintah Provinsi NTB mendorong penerapan prinsip tabayyun sebagai solusi konkret untuk menyaring segala bentuk pemberitaan sebelum dibagikan ke jaringan luas. Hal ini menjadi benteng utama dalam menjaga kesehatan ekosistem komunikasi publik.
“Dalam perspektif Islam, verifikasi informasi merupakan kewajiban agar tidak menimbulkan kerugian bagi banyak orang,” ujarnya.
Doktor Ahsanul mengutip landasan teologis dari Al-Quran yang memerintahkan setiap mukmin untuk memeriksa kebenaran berita dari pembawa kabar. Langkah tersebut merupakan prosedur tetap yang relevan dengan metode pengujian fakta di dunia jurnalistik.
Integritas informasi dalam sejarah peradaban Islam bahkan tercermin kuat pada ketatnya metodologi ilmu hadis yang menguji kredibilitas narasumber. Warisan keilmuan ini seharusnya menjadi rujukan utama bagi generasi muda dalam bermedia sosial secara sehat.
“Ini menunjukkan bahwa etika informasi sebenarnya merupakan bagian utuh dari fondasi peradaban manusia,” tegasnya.
Mahasiswa KPI UMMAT diharapkan mampu memadukan kecanggihan teknis penggunaan perangkat digital dengan kekuatan karakter moral yang kokoh. Peran mereka sangat dinantikan sebagai garda terdepan dalam memerangi penyebaran konten negatif di NTB.
Generasi akademisi ini memiliki tugas besar sebagai agen literasi yang mampu memproduksi narasi edukatif bagi masyarakat awam. Kontribusi nyata tersebut bisa diwujudkan melalui kampanye anti-hoaks dan pembuatan konten dakwah yang menyejukkan.
“Masjid dan perguruan tinggi harus menjadi pusat penguatan literasi informasi yang sehat bagi warga,” katanya.
Potensi modal sosial keagamaan yang tinggi di daerah ini dipandang sebagai kekuatan besar untuk membangun iklim komunikasi digital yang santun. Sinergi antara lembaga pendidikan dan komunitas media menjadi kunci keberhasilan transformasi informasi.
Kuliah pakar ini memberikan perspektif baru bagi para calon sarjana komunikasi dalam memandang fungsi media sebagai sarana pengabdian. Aktivitas berbagi pesan bukan lagi sekadar rutinitas teknis, melainkan bentuk tanggung jawab kepada Tuhan.
“Komunikasi bukan sekedar aktivitas menyampaikan pesan, tetapi bagian dari tanggung jawab moral dalam menjaga peradaban,” ujarnya.
Pihak universitas berkomitmen terus memfasilitasi diskusi serupa guna mencetak komunikator masa depan yang cerdas secara intelektual dan luhur secara budi pekerti. Mahasiswa diminta mulai melakukan praktik verifikasi ketat pada setiap unggahan pribadi mereka.
Penerapan nilai-nilai etis dalam jagat maya akan menciptakan lingkungan yang lebih beradab bagi pertumbuhan generasi mendatang. Kesadaran kolektif untuk memverifikasi data sebelum klik share adalah langkah kecil berdampak masif bagi perdamaian bangsa.
“Mahasiswa diharapkan mampu menerapkan nilai etika komunikasi dalam praktik media digital di tengah dinamika teknologi,” pungkasnya.*















